Menurutnya, hambatan dan rintangan bukan penghalang yang harus dihindari — justru sebaliknya. Tekanan dan kondisi yang memberatkan adalah bahan bakar yang membentuk karakter seorang pemimpin. Tanpa itu, seseorang mungkin menempati posisi pemimpin, tetapi belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan yang sesungguhnya.
“Kondisi yang memberatkan, kondisi rintangan, kondisi hambatan, justru kondisi-kondisi ini yang membesarkan seorang pemimpin,” tegasnya. “Hampir bisa dikatakan, orang yang tidak menghadapi hambatan, tidak menghadapi kesulitan, tidak mengalami penderitaan, hampir bisa dikatakan ndak jadi pemimpin. Itu kenyataan.”
Namun Prabowo tidak berhenti pada soal ketangguhan semata. Ia menyentuh dimensi lain yang menurutnya tak kalah penting: keberanian. Bagi Prabowo, keberanian adalah syarat mutlak kepemimpinan. Tapi keberanian yang telanjang — tanpa kebijaksanaan dan empati — justru bisa menjadi ancaman.
Pemimpin yang berani tanpa kebajikan, katanya, berpotensi membawa bahaya bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keberanian harus ditopang oleh nilai-nilai kebaikan, empati, dan kebijaksanaan agar tidak berubah menjadi kecerobohan yang berbalut kuasa.
“Berani tanpa kebajikan akan muncul sebagai pemimpin, tapi mungkin pemimpin yang tidak hati-hati, pemimpin yang tidak arif, pemimpin yang ujungnya membahayakan yang dipimpin,” ujarnya dengan nada serius.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.