Juru bicara Partai Gerindra, Kamrus Samad, mengonfirmasi bahwa surat pengunduran diri Nanik telah disampaikan secara resmi kepada Presiden Prabowo dan telah diterima. Presiden, yang telah mengenal Nanik selama hampir 20 tahun, disebut memahami kondisi tersebut dan menyetujui keputusannya.

Meski mengundurkan diri dari jabatan struktural, Nanik mengungkapkan bahwa Presiden memintanya tetap terlibat mengawasi jalannya BGN. Dalam unggahannya, ia menyinggung kemungkinan pembentukan dewan pengawas BGN, di mana dirinya diminta menjadi ketua. Pemerintah belum mengonfirmasi hal tersebut secara resmi.

Selama 45 hari memimpin, Nanik meninggalkan sejumlah capaian yang diakui berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi 9 DPR, Charles Honoris, menyebut Nanik cukup rajin melakukan inspeksi mendadak ke dapur-dapur SPPG. Namun ia juga mengingatkan bahwa masalah BGN jauh lebih besar dari sekadar pergantian kepemimpinan.

Deputi Komunikasi Pemerintah, Timoti Ivan Triono, merangkum enam hal besar yang berhasil dilakukan Nanik. Pertama, mengevaluasi hampir 28.000 SPPG yang beroperasi — keputusan berani yang menuai banyak kritik namun dianggap perlu. Kedua, mengklasifikasikan sekitar 3.000 dapur ke dalam kategori A, B, dan C berdasarkan standar kualitas dan keamanan pangan.

Ketiga, memberlakukan moratorium penambahan dapur baru sambil fokus pada ekspansi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau kawasan 3T. Keempat, menemukan 414 SPPG yang belum beroperasi namun sudah menerima anggaran — dan berhasil mengembalikan ratusan miliar rupiah ke kas negara. Kelima, membentuk tim reformasi MBG untuk memfokuskan program pada kelompok yang benar-benar membutuhkan: balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta anak-anak sekolah di daerah 3T. Keenam, mengganti lima pejabat eselon I dengan tenaga profesional dari Kementerian Kesehatan, Kemendikdasmen, BPKP, dan Kejaksaan Agung.



Follow Widget