Narasi sejarah ini tampaknya bukan sekadar nostalgia. Muzani menggunakannya sebagai argumen bahwa fondasi hubungan kedua negara bukan hanya bertumpu pada kepentingan ekonomi semata, melainkan pada ikatan kebudayaan yang mengakar panjang.

“Fondasi sejarah dan ikatan kebudayaan yang kuat menjadikan hubungan kedua negara tetap kokoh sebagai sahabat dan mitra strategis meski sempat melewati dinamika zaman,” ujarnya.

Pernyataan ini terasa relevan jika dikaitkan dengan sejarah pasang surut hubungan Jakarta-Beijing yang pernah mengalami pembekuan panjang pasca-1965. Namun, sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1990, kedua negara terus membangun kembali kepercayaan dan kerja sama yang kini menjangkau sektor investasi, perdagangan, infrastruktur, hingga pertukaran budaya.

Dalam pertemuan itu, Muzani juga mengemban misi simbolis yang tidak kalah penting: menyampaikan salam Presiden RI Prabowo Subianto kepada Zhao Leji. Salam tersebut disambut hangat dan dibalas oleh Zhao Leji untuk diteruskan kepada Presiden Prabowo.

Gestur diplomatik seperti ini memang terkesan sederhana, namun dalam protokol hubungan antarnegara, pesan pribadi antarpemimpin membawa makna politis yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa jalur komunikasi antara Jakarta dan Beijing tidak hanya berjalan di tingkat teknis, tetapi juga di level kepemimpinan tertinggi.



Follow Widget