Poin kedua menjadi sorotan tersendiri, mengingat dinamika di Laut China Selatan yang kerap menjadi titik tegangan antara negara-negara ASEAN dengan Beijing. Penegasan saling menghormati kedaulatan menjadi sinyal positif bagi postur diplomasi Indonesia yang selama ini mengedepankan prinsip non-blok.
Dalam forum tersebut, Muzani tak hanya bicara soal hubungan masa kini. Ia membawa percakapan ke akar sejarah yang lebih dalam — jauh sebelum era diplomasi modern berdiri.
Muzani mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok telah resmi terjalin lebih dari 75 tahun dalam bentuk hubungan diplomatik. Namun, menurutnya, ikatan antara kedua bangsa sebenarnya jauh lebih tua dari itu.
“Hubungan sejarah kita sangat panjang. Salah satu bukti sejarah adalah ekspedisi maritim Laksamana Cheng Ho pada tahun 1405 yang mengunjungi Aceh, Palembang, Semarang, Cirebon, Gresik, hingga Surabaya,” kata Muzani di hadapan Zhao Leji.
Ekspedisi besar Laksamana Cheng Ho lebih dari enam abad silam itu disebut Muzani sebagai salah satu tonggak interaksi budaya dan perdagangan antara masyarakat Tiongkok dan Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir Jawa dan Sumatera menjadi saksi bisu persinggungan dua peradaban yang kemudian membentuk akar budaya sebagian masyarakat Indonesia hingga hari ini.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.