Dalam rapat tersebut, Amran secara terbuka meminta Wakil Kepala BGN, Terenggono, untuk mencopot Tiara dari jabatannya. Ia menegaskan bahwa keputusan itu diambil semata-mata demi kepentingan para peternak yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor unggas.
Amran bahkan menyampaikan bahwa ia tidak akan segan-segan mengambil tindakan serupa apabila penanggung jawab di tingkat SPPG terbukti tidak mampu menjalankan instruksi BGN. Ia menyebut bahwa jika Tiara adalah pegawai Kementerian Pertanian, sanksi yang dijatuhkan pun tidak akan berbeda.
Sebagai bentuk solusi, Amran menawarkan agar Tiara dipindahkan ke lingkungan Kementerian Pertanian. Namun terkait posisi Koordinator BGN Surabaya, Amran secara eksplisit meminta agar jabatan tersebut diisi oleh seorang laki-laki. Ia menilai bahwa dibutuhkan figur yang lebih tegas dan mampu mendorong pelaksanaan instruksi penyerapan telur secara konsisten di lapangan.
Pernyataan ini memang mengundang perhatian, mengingat dasar pencopotan yang disertai preferensi gender cukup jarang terjadi secara terbuka dalam forum resmi pemerintah. Namun Amran tampaknya bergerak atas pertimbangan efektivitas kerja di lapangan, bukan sekadar formalitas administratif.
Di luar persoalan pencopotan, rapat koordinasi tersebut juga menghasilkan sejumlah komitmen penting bagi keberlangsungan usaha peternakan nasional. Amran memastikan bahwa harga pakan dari Satuan Pelayanan Bahan Pakan (SPB) akan dipertahankan hingga akhir tahun. Ini merupakan kabar baik bagi para peternak yang selama ini terhimpit oleh tingginya biaya produksi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.