Pada 14 Agustus 1961, tonggak sejarah itu resmi ditancapkan. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilantik sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka pertama. Ia memimpin organisasi tersebut selama empat periode berturut-turut, dari 1961 hingga 1974 — satu masa kepemimpinan yang panjang dan penuh terobosan.

Di bawah kepemimpinannya, Gerakan Pramuka bukan hanya dalam jumlah anggota, tetapi juga dalam kualitas program dan nilai yang diperjuangkan. Ia menjadi pelopor berbagai kegiatan kepramukaan yang hingga kini masih dirayakan, seperti Wirakarya dan Perkemahan Satya Dharma. Dua pedoman hidup Pramuka yang paling dikenal — Tri Satya dan Dasa Dharma — juga dikembangkan dan diperkuat di era kepemimpinannya.

Tri Satya mengajarkan kesetiaan kepada Tuhan, bangsa, dan sesama manusia. Dasa Dharma merumuskan sepuluh nilai luhur yang menjadi cerminan karakter seorang Pramuka sejati. Keduanya bukan sekadar hafalan upacara, melainkan panduan hidup yang ia yakini mampu membentuk generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkarakter.

Pengakuan atas kepemimpinannya tidak hanya datang dari dalam negeri. Pada tahun 1973, World Organization of the Scout Movement memberikan penghargaan paling bergengsi dalam dunia kepanduan internasional kepadanya: Bronze Wolf Award. Penghargaan itu hanya diberikan kepada individu yang dinilai berjasa luar biasa dalam pengembangan gerakan kepanduan di seluruh dunia — dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah salah satu dari segelintir orang yang layak menerimanya.

Rekam jejak Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam kehidupan bernegara pun tidak kalah panjang. Ia adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang dicintai rakyatnya, pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, dan mengakhiri karier pemerintahannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1973 hingga 1978. Ia adalah satu dari sedikit tokoh Indonesia yang mampu berdiri tegak di dua dunia sekaligus: dunia pemerintahan dan dunia pendidikan karakter bangsa.



Follow Widget