JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Beras medium tidak akan pernah masuk dapur program Makan Bergizi Gratis. Perum Bulog menegaskan posisinya secara tegas: hanya beras premium yang layak disajikan untuk jutaan anak-anak dan ibu hamil yang menjadi penerima manfaat program unggulan pemerintah tersebut.
Pernyataan ini bukan sekadar komitmen administratif. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhan secara langsung menyatakan pada di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026), bahwa seluruh pasokan beras untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib memenuhi standar kualitas premium, jauh di atas beras medium maupun beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang selama ini dikenal sebagai beras bersubsidi untuk masyarakat umum.
Keputusan ini mencerminkan filosofi sederhana namun krusial di balik program MBG: kualitas pangan yang baik adalah fondasi dari gizi yang baik. Pemerintah tidak ingin program ambisius senilai triliunan rupiah ini ternoda oleh bahan baku yang tidak memadai.
Ahmad Rizal memperjelas bahwa komitmen terhadap kualitas tidak berhenti pada jenis beras saja. Bahan pangan bersubsidi lainnya yang biasa beredar di pasar, seperti MinyaKita dan LPG tabung tiga kilogram, juga tidak diperkenankan masuk ke dapur-dapur MBG yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Kebijakan ini memang menimbulkan pertanyaan wajar: mengapa tidak menggunakan bahan bersubsidi yang lebih terjangkau demi efisiensi anggaran? Jawabannya terletak pada tujuan jangka panjang program ini. MBG dirancang bukan sekadar mengenyangkan perut, melainkan membangun generasi yang lebih sehat dan produktif.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.