JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Seorang pemimpin adat dari jantung Borneo tiba di Istana Merdeka dengan membawa suara jutaan warga pedalaman. Jumat, 28 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menerima langsung Panglima Jilah, pemimpin besar suku Dayak seluruh Kalimantan, dalam sebuah pertemuan yang jarang terjadi namun penuh bobot.

Bukan sekadar audiensi seremonial. Dari pertemuan itu, Prabowo langsung menginstruksikan sejumlah program konkret untuk masyarakat Dayak, seolah ingin membuktikan bahwa pemerintah pusat tidak hanya hafal nama suku, tapi juga hafal isi keluhannya.

Salah satu instruksi paling mendesak adalah pembangunan jalan di daerah pedalaman Kalimantan, termasuk kawasan Sanggau dan sekitarnya. Wilayah ini sudah lama menjadi ironi: kaya sumber daya alam, tapi miskin aksesibilitas. Jalan yang layak bukan kemewahan bagi warga Dayak, melainkan syarat dasar untuk hidup bermartabat.

Selain infrastruktur jalan, Prabowo juga merespons permintaan pendidikan. Sekolah Rakyat dan program beasiswa akan dibangun dan diperluas di berbagai wilayah kota adat Dayak. Dua Sekolah Rakyat telah berdiri di Kalimantan Barat, dan ini baru permulaan. Angka dua itu terdengar kecil, tapi bagi komunitas yang selama puluhan tahun mengirim anak-anak mereka ke sekolah dengan berjalan kaki berjam-jam menembus hutan, dua sekolah sudah berarti revolusi kecil.

Instruksi ketiga menyentuh soal identitas budaya: pembangunan rumah adat Dayak. Ini bukan proyek hiasan wisata semata. Rumah adat adalah tempat musyawarah, tempat ritual, tempat kebudayaan hidup dan bernafas. Ketika rumah adat runtuh, maka perlahan nilai-nilai leluhur pun ikut terkubur.



Follow Widget