KEBUMEN, PUNGGAWANEWS – Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), turun langsung ke rumah sakit untuk menjenguk para siswa yang dirawat akibat keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/8/2026). Ia tidak hanya menyampaikan permintaan maaf, tetapi juga berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan dari kantong pribadinya.
Kejadian ini mengguncang publik. Program makan siang gratis yang digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintah justru berujung pada insiden keracunan massal yang merenggut kenyamanan para pelajar dan membuat keluarga mereka cemas.
Salah satu korban yang dijenguk Sudaryono adalah Naya, seorang siswi kelas dua belas yang tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir sekolah. Ia menceritakan pengalamannya kepada Sudaryono dengan rinci — bagaimana awalnya terasa tidak ada yang aneh saat makan siang, namun sesampainya di rumah perutnya langsung melilit tak tertahankan.
Naya sempat mengira sakit perutnya hanya gangguan biasa. Namun keesokan paginya ia mengalami diare parah, kondisinya tidak membaik bahkan saat sudah tiba di sekolah. Saat ia bertanya kepada teman-temannya, ternyata hampir semuanya mengalami gejala yang sama: sakit perut, mual, dan diare.
Pihak sekolah langsung bergerak cepat dengan memanggil ambulans. Naya sempat menolak dievakuasi karena suasana yang ramai dan panik, namun kondisinya memburuk dengan cepat. Ia muntah-muntah dan akhirnya dibawa ke klinik, lalu dirujuk ke unit gawat darurat rumah sakit karena antrean di klinik yang penuh sesak.
Di instalasi gawat darurat, Naya menerima suntikan namun reaksinya justru membuat dadanya semakin sesak. Dokter kemudian memasang infus dan Naya pun dirawat inap. Kondisinya berangsur membaik, meski perjalanan menuju pemulihan itu tidak mudah.
Sudaryono mendatangi Naya di bangsal rumah sakit, berbincang langsung dengan sang kakek yang menemani cucunya. Suasana pertemuan itu terasa hangat namun sarat rasa prihatin. Kepala BGN itu menyalami keluarga pasien, menanyakan kondisi Naya satu per satu, dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
“Saya minta maaf karena cucu Anda dirawat akibat MBG,” kata Sudaryono kepada sang kakek. Ia menyebut dirinya sebagai kepala BGN yang baru, dan insiden ini adalah yang pertama terjadi sejak ia menjabat — sekaligus harus menjadi yang terakhir.
Sudaryono tidak sekadar berkata-kata. Ia langsung meminta nomor kontak keluarga Naya agar urusan administrasi rumah sakit dapat diselesaikan. Kepada direktur rumah sakit yang turut hadir, ia menegaskan bahwa biaya perawatan seluruh korban keracunan MBG akan ia tanggung secara pribadi — bukan dari anggaran negara.
“Ini uang pribadi saya, bukan dari pemerintah,” tegasnya di hadapan para dokter dan staf rumah sakit.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Sudaryono ingin memisahkan tanggung jawab moralnya sebagai individu dari mekanisme birokrasi yang seringkali lamban. Langkah ini mendapat respons positif dari pihak keluarga korban yang hadir.
Di sela kunjungan, Sudaryono juga berbicara kepada para koordinator lapangan dan pengelola dapur penyedia MBG yang ikut mendampingi. Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama atas kualitas makanan ada di tangan pengelola dapur — mulai dari proses memasak, pemilihan bahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
Ia meminta agar standar operasional prosedur (SOP) segera dirampungkan dan diterapkan secara ketat. Menurutnya, makanan dalam program MBG harus memenuhi tiga kriteria sekaligus: bergizi, aman, dan enak. Ketiga hal itu tidak bisa dikorbankan salah satunya.
“Makanan harus seperti makanan di rumah sakit — sehat. Tapi juga harus enak,” ujarnya. Ia mencontohkan, cilok memang enak, tetapi tidak bergizi. Standar MBG harus melampaui itu.
Sudaryono juga menyinggung pentingnya kedisiplinan di dapur. Ia meminta pengelola untuk tidak ragu menegur atau bahkan mengganti tenaga yang tidak mengikuti prosedur yang berlaku. Baginya, satu kelalaian kecil di dapur bisa berujung pada bencana seperti yang baru saja terjadi.
Kepala BGN itu juga menekankan perlunya transparansi penuh dalam pengelolaan dapur MBG — mulai dari jam memasak, jumlah porsi yang disiapkan, hingga menu yang disajikan harus terdokumentasi dengan baik. Tidak boleh ada yang disembunyikan, karena program ini menyentuh langsung kesehatan jutaan anak Indonesia.
Insiden keracunan ini menjadi tamparan keras bagi program MBG yang baru berjalan. Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia itu kini tengah diuji — bukan hanya dalam hal kualitas makanan, tetapi juga dalam hal kepercayaan publik.
Bagi keluarga seperti kakek Naya, kepercayaan itu sempat goyah. Namun kehadiran langsung Sudaryono, kesediaannya mendengar, dan komitmennya menanggung biaya pengobatan menjadi langkah awal yang berarti untuk memulihkan kepercayaan tersebut.
Naya sendiri, meski masih dalam masa pemulihan, sudah tampak lebih segar saat Sudaryono berpamitan. Sang kakek melepas tamu istimewa itu dengan ucapan terima kasih, sementara Sudaryono mengingatkan semua pihak: kejadian ini harus menjadi pelajaran terakhir, bukan permulaan dari masalah yang lebih besar.
FAQ
Apa yang dilakukan Kepala BGN Sudaryono setelah insiden keracunan MBG?
Sudaryono mengunjungi langsung para siswa korban keracunan di rumah sakit, menyampaikan permintaan maaf, dan berkomitmen menanggung seluruh biaya perawatan dari uang pribadinya.
Bagaimana kronologi keracunan yang dialami para siswa?
Para siswa mengonsumsi makanan dari program MBG di sekolah, kemudian mengalami sakit perut, mual, dan diare setelah pulang ke rumah. Keesokan harinya gejala memburuk hingga sebagian harus dirawat di rumah sakit.
Apa langkah BGN untuk mencegah insiden serupa terulang?
BGN sedang merampungkan SOP baru yang mewajibkan makanan MBG memenuhi standar bergizi, aman, dan lezat sekaligus, disertai pengetatan disiplin di dapur penyedia dan transparansi penuh dalam proses produksi makanan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.