Di luar soal ekonomi dan digital, Sugiono juga membawa suara Indonesia pada isu-isu kawasan dan global yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya multilateralisme dan kepatuhan konsisten terhadap hukum internasional sebagai landasan utama dalam mencegah konflik dan mengelola krisis.

Indonesia sekali lagi menegaskan dukungannya terhadap perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina. Posisi ini bukan hal baru, tetapi penegasannya di forum bersama AS memberi bobot diplomatik tersendiri—menjadikan suara Indonesia bukan sekadar formalitas, melainkan komitmen moral yang konsisten di panggung internasional.

Sugiono juga mendorong deeskalasi berbagai konflik yang tengah bergolak di penjuru dunia, melalui mekanisme dialog dan penyelesaian damai. Sebuah sikap yang mencerminkan prinsip politik luar negeri Indonesia: bebas aktif, tidak memihak blok mana pun, tetapi tidak pernah absen dari tanggung jawab menjaga perdamaian dunia.

Pertemuan Manila menjadi sinyal penting bahwa ASEAN—dengan Indonesia sebagai salah satu motor penggeraknya—tidak ingin menjadi penonton pasif di tengah turbulensi global. Blok ini ingin duduk di meja yang sama, berbicara dengan nada yang setara, dan membangun kemitraan yang menguntungkan semua pihak.



Follow Widget