Insiden ini bukan yang pertama. Pada 2010, armada Freedom Flotilla mengalami nasib serupa ketika diserang militer Israel di perairan internasional, menewaskan sembilan aktivis Turki dan memicu krisis diplomatik yang panjang. Kali ini, dunia kembali menyaksikan pola yang sama — dengan skala yang boleh jadi berbeda, tetapi dengan logika yang identik.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar isu luar negeri yang jauh dari urusan domestik. Sembilan warga negara Indonesia kini berada di tangan kekuatan militer asing, di perairan internasional, setelah berangkat atas nama kemanusiaan. Respons pemerintah dalam jam-jam dan hari-hari ke depan akan menjadi ujian nyata dari komitmen konstitusional Indonesia untuk turut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Sementara itu, Republika menegaskan tidak akan tinggal diam. Keselamatan dua jurnalisnya disebut Andi Muhyiddin sebagai perhatian serius lembaganya. Bersama seluruh komunitas jurnalis dan relawan kemanusiaan dunia, Republika berdiri menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap mereka yang pergi bukan untuk berperang, melainkan untuk bersaksi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.