Di lapangan, kemandirian itu diuji setiap hari. Para jaksa berhadapan langsung dengan berbagai perkara — dari korupsi kelas kakap hingga kasus yang menyentuh kehidupan masyarakat kecil. Tekanan datang dari berbagai arah. Integritas adalah benteng satu-satunya.
Tema peringatan tahun ini — profesional, berintegritas, dan humanis — bukan rangkaian kata yang dipilih sembarangan. Ketiganya mencerminkan tiga dimensi yang harus hadir bersamaan dalam diri seorang jaksa. Profesionalisme memastikan pekerjaan dilakukan dengan standar tinggi. Integritas menjaga agar standar itu tidak runtuh di hadapan godaan. Humanisme mengingatkan bahwa di balik setiap berkas perkara, ada manusia dengan cerita dan kehidupan nyata.
Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa dari tahun ke tahun tidak hanya diisi upacara dan pidato. Institusi ini juga menyelenggarakan evaluasi kinerja internal, penguatan integritas para jaksa, hingga aksi sosial kemasyarakatan. Pendekatan itu menunjukkan bahwa Korps Adhyaksa tidak ingin terlihat sebagai menara gading — jauh, dingin, dan tidak terjangkau oleh rakyat biasa.
Enam puluh enam tahun adalah usia yang matang. Cukup matang untuk mengetahui betapa rumitnya menegakkan keadilan di negeri yang besar dan kompleks ini. Namun juga cukup matang untuk tidak menyerah pada kerumitan itu.
Hari Bhakti Adhyaksa ke-66 bukan hanya perayaan ulang tahun. Ia adalah pengingat bahwa institusi ini lahir dari pilihan yang disengaja — pilihan untuk menjadikan hukum sebagai panglima, bukan alat. Dan pilihan itu harus diperbarui setiap hari, oleh setiap jaksa, di setiap sudut Indonesia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.