Satu nama BUMD yang disebut Dedi dalam konteks ini adalah Sangga Buana. Ia menyindirnya dengan nada satire: “Pendukung dunia sampai akhirat kalau perlu.” Sindiran itu menggambarkan betapa BUMD tersebut terkesan menikmati posisi strategis tanpa kontribusi nyata yang sebanding.

Bagi Dedi, ini bukan sekadar soal efisiensi administrasi. Ini soal integritas tata kelola keuangan daerah. Ketika uang publik berputar dalam ekosistem BUMD yang gemuk tanpa transparansi, yang dirugikan adalah warga Jawa Barat yang seharusnya merasakan manfaat dari pendapatan daerah.

Di luar isu BUMD, Dedi juga memaparkan sejumlah program strategis yang tengah berjalan di Jawa Barat. Salah satu yang paling mendesak adalah pengelolaan sampah di wilayah Bandung Raya, mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

Kapasitas TPA Sari Mukti terus menyusut dan tak bisa diandalkan selamanya. Untuk jangka pendek, Dedi mendorong teknologi pengolahan sampah menjadi briket — teknologi sederhana yang dikembangkan oleh UMKM lokal di Lembang. Gedung Sate sudah menjadi percontohan: sampah harian diubah menjadi briket dan didistribusikan ke berbagai tempat. Ia ingin teknologi ini dipasang di setiap kecamatan.

Untuk jangka panjang, solusinya ada pada proyek Legok Nangka — kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat pengolahan sampah terpadu dan pembangkit energi dari sampah. Dedi meminta DPRD Jabar mendukung penuh upaya ini agar kemacetan di Sari Mukti tidak meluas menjadi krisis lingkungan.



Follow Widget