MANGGARAI, PUNGGAWANEWS – Lebih dari dua puluh tujuh ribu warga Nusa Tenggara Timur belum bisa pulang ke rumah mereka. Gempa bumi yang mengguncang tujuh kabupaten di provinsi itu membuat puluhan ribu orang harus bertahan di 107 titik pengungsian, sementara bantuan dari berbagai penjuru terus mengalir ke lokasi bencana.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memastikan bahwa distribusi bantuan kepada para korban tidak berhenti. Hingga Selasa, 18 Agustus 2026, Polri telah mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.
“Bantuan ini tentunya kita harapkan bisa membantu dan kami akan terus dorong sampai dengan kebutuhan terpenuhi,” ujar Sigit dalam keterangannya.
Dari total 27.700 warga yang masih mengungsi, tercatat 1.245 orang menjadi korban langsung bencana ini. Sebanyak 67 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 509 orang mengalami luka berat dan 669 orang luka ringan. Angka-angka itu mencerminkan betapa dahsyatnya dampak gempa yang meluluhlantakkan kehidupan warga di tujuh kabupaten terdampak.
Polri tidak hanya berdiri sebagai penjaga keamanan di lokasi bencana. Lembaga ini mengambil peran jauh lebih luas dalam operasi kemanusiaan ini. Delapan Posko Tanggap Bencana telah dibentuk, satu di antaranya berpusat di Labuan Bajo sebagai titik koordinasi utama, sementara tujuh posko lainnya tersebar di Polres-Polres yang berada di wilayah terdampak.
Posko-posko ini bukan sekadar tenda bersimbol institusi. Sigit menjelaskan bahwa setiap posko berfungsi sebagai pusat pelayanan sekaligus ruang koordinasi untuk menginventarisasi kebutuhan yang terus berkembang di lapangan. Setiap laporan dari warga ditampung, dipilah, dan ditindaklanjuti.
Untuk memperkuat kapasitas penanganan di lapangan, Polri mengirimkan 236 personel bantuan Bawah Kendali Operasi atau BKO ke Polda NTT. Mereka bukan personel biasa. Pasukan yang dikirimkan memiliki kemampuan khusus yang mencakup SAR dan evakuasi, pelayanan kesehatan, anjing pelacak K9, trauma healing, pengamanan lokasi, hingga dukungan distribusi logistik.
Kehadiran tim trauma healing menjadi perhatian tersendiri. Di balik angka-angka korban yang tertulis dingin dalam laporan resmi, ada ribuan jiwa yang menanggung trauma mendalam. Kehilangan rumah, kehilangan orang-orang tercinta, dan ketidakpastian tentang hari esok adalah beban yang tidak cukup diatasi hanya dengan makanan dan -obatan.
Di front logistik, gerak Polri juga tidak kalah masif. Secara keseluruhan, institusi ini telah menyalurkan 247,66 ton bantuan logistik dan kemanusiaan. Pasokan itu berasal dari Mabes Polri dan lima Polda jajaran yang turut bergerak merespons bencana.
Bantuan yang dikirimkan mencakup berbagai kebutuhan mendasar: bahan makanan, pakaian, perlengkapan pengungsian, -obatan, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Angka 247 ton lebih itu bukan sekadar statistik—ia merepresentasikan kebutuhan nyata puluhan ribu manusia yang hidupnya tiba-tiba terbalik dalam sekejap.
“Semoga bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat serta membantu memenuhi kebutuhan selama berada di lokasi pengungsian,” kata Sigit.
Kondisi di lapangan menuntut respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan. Pengungsian yang tersebar di 107 titik dengan karakteristik geografis NTT yang beragam—kepulauan, pegunungan, wilayah terpencil—menjadikan distribusi bantuan bukan perkara mudah. Setiap titik pengungsian memiliki kebutuhan yang berbeda, dan koordinasi menjadi kunci agar tidak ada warga yang terlewat.
Situasi di NTT mengingatkan kembali bahwa Indonesia, sebagai salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia, masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Gempa tidak mengenal jadwal. Ia datang tanpa peringatan dan pergi meninggalkan kehancuran yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
Yang bisa dilakukan adalah bergerak cepat ketika bencana terjadi, memastikan tidak ada korban yang dibiarkan berjuang sendirian. Dalam konteks itu, kehadiran 236 personel Polri di NTT, bersama ratusan ton bantuan logistik, adalah bentuk nyata dari komitmen tersebut.
Proses pemulihan di tujuh kabupaten terdampak masih akan memakan waktu. Namun selama pengungsi masih membutuhkan, Sigit memastikan, bantuan akan terus mengalir.
FAQ
Berapa jumlah korban gempa bumi di NTT hingga 18 Agustus 2026?
Hingga 18 Agustus 2026, tercatat 1.245 orang menjadi korban bencana gempa NTT, terdiri dari 67 orang meninggal dunia, 509 orang luka berat, dan 669 orang luka ringan, sementara 27.700 warga masih berada di pengungsian.
Apa saja yang dilakukan Polri dalam penanganan gempa NTT?
Polri mendirikan delapan Posko Tanggap Bencana, mengerahkan 236 personel BKO dengan kemampuan SAR, kesehatan, dan trauma healing, serta menyalurkan 247,66 ton bantuan logistik dari Mabes Polri dan lima Polda jajaran.
Di mana saja posko bencana Polri didirikan untuk korban gempa NTT?
Polri mendirikan satu posko utama di Labuan Bajo dan tujuh posko lainnya di Polres-Polres yang berada di tujuh kabupaten terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.