JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Indonesia kian mantap melangkah sebagai kekuatan ekonomi syariah dunia. Bank Indonesia mencatat aset keuangan syariah nasional telah menembus angka Rp 3.131 triliun, sementara posisi Indonesia dalam peta ekonomi Islam global terus mendaki hingga peringkat keempat dunia berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026.
Kabar ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti saat membuka Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 26 September 2026. Di hadapan para pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan yang hadir, Destry menegaskan bahwa ekonomi syariah bukan lagi sekadar alternatif—ia tengah bertransformasi menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang nyata.
Pada triwulan II 2026, sektor unggulan rantai nilai halal Indonesia mencatat pertumbuhan 5,50 persen secara tahunan. Tiga sektor yang paling kencang lajunya adalah makanan halal, fesyen muslim, dan pariwisata ramah muslim—tiga segmen yang selama ini menjadi tulang punggung industri halal nasional.
Lonjakan ini bukan terjadi dalam semalam. Destry menunjuk angka literasi ekonomi syariah yang melejit dari hanya 16,3 persen pada 2019 menjadi 50,18 persen pada 2025—sebuah lompatan yang mencerminkan meningkatnya pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem ekonomi berbasis nilai Islam.
Namun Destry mengingatkan bahwa capaian angka saja tidak cukup. Pertumbuhan yang ada harus dirasakan langsung oleh masyarakat luas, bukan sekadar tercermin dalam statistik. “Kunci mewujudkannya adalah sinergi. Semangat sinergi inilah yang kita wujudkan melalui Festival Syariah Jawa 2026,” kata dia.
Untuk mencapai itu, Bank Indonesia mendorong tiga langkah strategis: perluasan pembiayaan syariah agar lebih banyak pelaku usaha kecil yang terjangkau, pengembangan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi, serta peningkatan literasi ekonomi syariah hingga ke lapisan masyarakat yang paling bawah.
Suara senada datang dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Dalam pandangannya, tolok ukur keberhasilan ekonomi syariah tidak seharusnya hanya bertumpu pada besaran aset. “Ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan hanya seberapa besar asetnya, tetapi seberapa luas manfaat dan kemaslahatan yang dihasilkannya,” ujar Khofifah.
Pernyataan itu relevan dengan konteks penyelenggaraan festival yang menempatkan Jawa Timur sebagai tuan rumah. Provinsi ini dipilih bukan tanpa alasan. Dengan 97,33 persen penduduk beragama Islam dan 7.347 pesantren yang tersebar di seluruh wilayahnya, Jawa Timur adalah jantung dari ekosistem ekonomi syariah nasional.
Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 berlangsung selama tiga hari, 25 hingga 27 September 2026, dengan mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.” Tema ini mencerminkan dua arah besar yang sedang dikejar: pertumbuhan yang tak hanya cepat, tetapi juga bertumpu pada ekosistem digital yang kuat.
Sejumlah program konkret digelar dalam festival tersebut. Pasar Rakyat dan Zona Halal, Aman, dan Sehat hadir untuk memperkuat akses pasar bagi UMKM yang selama ini kerap kesulitan menembus pasar yang lebih luas. Program pengembangan wakaf uang dirancang untuk menyokong pendidikan, sementara skema pembiayaan perumahan dihadirkan khusus bagi guru madrasah dan pesantren yang tergabung dalam jaringan HEBITREN.
Program-program ini bukan sekadar pemanis acara. Kesemuanya dirancang untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi pelaku ekonomi syariah di tingkat akar rumput—dari keterbatasan modal hingga minimnya akses terhadap lembaga pembiayaan formal.
Festival Syariah Jawa 2026 juga menjadi penutup rangkaian Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Sebelumnya, gelaran serupa telah diselenggarakan di wilayah Sumatera dan kawasan timur Indonesia. Sejak pertama kali digelar pada 2019, ISEF telah berkembang menjadi forum strategis yang mempertemukan seluruh ekosistem ekonomi syariah—dari pelaku usaha hingga regulator—dalam satu ruang dialog yang produktif.
Dengan momentum Festival Syariah Jawa 2026, Indonesia seolah mengirimkan pesan tegas kepada dunia: negeri dengan populasi Muslim terbesar di planet ini tidak lagi puas sekadar menjadi konsumen ekonomi syariah global. Indonesia sedang bersiap menjadi utamanya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.