Klinik ini juga memiliki jaringan relawan dari kalangan RT, RW, hingga kepala desa yang membantu menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Data pasien yang tidak mampu bahkan akan dikolaborasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar dapat didaftarkan sebagai peserta BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Salah satu pasien yang hadir saat liputan adalah seorang ibu guru kepala sekolah MI swasta di Cilaku, Cianjur. Ia datang bukan karena penyakit fisik semata, melainkan karena tekanan pikiran akibat menurunnya jumlah murid di sekolahnya. Dokter pun memberikan “” yang tak biasa: meminta bantuan dari Bupati Cianjur dan program CSR Jabar untuk mendukung sekolah tersebut.

Kisah lain yang tak kalah menyentuh datang dari seorang ibu yang kelima anaknya berhasil menjadi sarjana, meskipun ia hanyalah seorang guru dengan gaji pas-pasan. Ia pernah menggadaikan sertifikat rumah demi biaya kuliah anaknya. Kini kelima anaknya telah sukses: ada yang bekerja di pemerintahan, menjadi direktur di perusahaan media nasional, hingga menjadi dokter yang bertugas di salah satu cabang klinik ini.

“Besar kecilnya penghasilan tidak menentukan masa depan anak,” kata sang dokter merangkum kisah itu. “Yang menentukan adalah tekad dan cara kita mengelola apa yang ada.”

Di akhir setiap transaksi, dokter ini selalu mengajukan tiga pertanyaan kepada pasiennya: “Sudah sepakat?”, “Ini mahal atau tidak?”, dan “Apakah Anda bahagia?”. Jika ketiga pertanyaan itu dijawab dengan puas, maka ijab kabul dianggap sah—bukan hanya sebagai transaksi medis, tetapi sebagai ikatan kepercayaan antara manusia.



Follow Widget