Bagi yang benar-benar tidak memiliki uang, klinik ini menyediakan program khusus bernama RIDO (Rawat Inap Dibayar Doa). Pasiennya cukup memanjatkan empat doa: untuk kesembuhan diri sendiri, untuk kesehatan dokter dan staf, untuk seluruh pasien yang berobat, dan untuk keberkahan klinik. Itu saja, tanpa syarat lain.

Ada pula program Pepaya Merah, yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap bisa mengakses layanan kesehatan berkualitas tanpa hambatan ekonomi.

Uniknya, klinik ini juga menerima pembayaran dalam bentuk natura. Beberapa pasien pernah membawa sayuran segar, buah-buahan, hingga ayam hidup yang dimasukkan ke dalam kardus. Semua diterima dengan senyum. Subsidi silang menjadi tulang punggung sistem ini: pasien yang mampu membayar lebih, secara tidak langsung menanggung sebagian biaya pasien yang tidak mampu.

Sang dokter juga menegaskan bahwa ia bukan pegawai negeri dan tidak memiliki penghasilan lain. Klinik ini dibiayai sebagian dari hasil pengelolaan rumah kos yang ia miliki, yang kabarnya memiliki ribuan kamar.

Dalam pandangannya, semangat pelayanan ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang ia pegang teguh. Ia bahkan menyindir praktik dokter yang terikat dengan perusahaan farmasi dan terpaksa meresepkan mahal meski tidak sesuai kemampuan pasien. “Dokter Muslim bisa dilihat dari cara dia memberi ,” katanya. “Kalau resepnya tidak sesuai kemampuan pasien, nilai umrahnya berkurang.”



Follow Widget