Zaman memang kadang punya logika terbalik. Konten pamer jam tangan mahal atau liburan luar negeri bisa ramai dalam hitungan jam. Tapi ketika anak muda memilih membangun jembatan di pedalaman, barulah banyak orang tersadar bahwa ada bentuk pamer yang jauh lebih bermakna: bukan pamer barang, tapi pamer manfaat. Pamer barang paling jauh hanya melahirkan rasa iri. Pamer manfaat bisa menular menjadi inspirasi.
Penolakan yang dialami Wafiq juga mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan di ruang kuliah mana pun. Bahwa ditolak bukan berarti tidak layak. Bahwa pintu yang tertutup tidak selalu berarti jalan buntu. Kadang, justru dari sanalah seseorang diarahkan ke jalur yang sama sekali berbeda dan bisa jadi jauh lebih bermakna.
Tentu tidak ada yang romantis dari proses itu sendiri. Tidak ada orang yang ditolak lalu langsung merasa tercerahkan. Yang pertama datang biasanya kecewa, kemudian overthinking, lalu mempertanyakan nasib. Tapi waktu berjalan, dan sering kali baru di kemudian hari kita menyadari bahwa tidak diterima di satu tempat justru membuka ruang untuk membangun sesuatu yang lebih besar.
Kisah ini tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang yang gagal melamar kerja harus segera mendirikan yayasan. Hidup tetap perlu dijalani secara realistis. Tagihan tidak bisa dibayar dengan semangat, dan kebutuhan sehari-hari tidak bisa diatasi hanya dengan motivasi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.