Keistimewaan momen ini tidak hanya menyentuh para pendidik. Dari Pulau Harapan dan Pulau Sabira, sejumlah nelayan pun turut masuk dalam daftar undangan. Nama-nama seperti Sama, Ali Kurniawan, dan Najib, orang-orang yang sehari-harinya menghadap samudra dan bergantung pada hasil tangkapan, kini akan berdiri di halaman Istana Merdeka bersama para tamu kehormatan lainnya.

Ali Kurniawan tidak menyembunyikan kebanggannya. Begitu menerima undangan, pikirannya langsung melayang ke rumah, ke anak-anaknya yang masih kecil. Ia membayangkan momen ketika nanti ia pulang dan duduk bersama keluarga, menceritakan pengalaman yang tidak semua orang bisa merasakannya.

“Saya terutama cerita kepada keluarga, anak-anak saya. Walaupun orang tuanya nelayan, tapi saya akan ceritakan: Bapak pernah menghadiri upacara di Istana Merdeka,” ujar Ali dengan nada penuh kebanggaan.

Bagi Ali, ini bukan sekadar kisah tentang sebuah upacara. Ini adalah warisan kecil yang ingin ia tinggalkan, bukti bahwa dari laut pun seseorang bisa sampai ke jantung ibu kota pada hari yang paling bersejarah dalam kalender bangsa.

Najib, nelayan asal Pulau Sabira, merasakan hal yang tidak jauh berbeda. Selama ini, bayangan tentang Istana Merdeka terasa begitu jauh, sesuatu yang hanya ada di televisi dan cerita orang lain. Undangan itu tiba-tiba menghapus jarak yang selama ini ia anggap tak tertembus.



Follow Widget