Rasa syukur itu terasa berlipat ganda karena tahun sebelumnya Welni sempat mencoba mendaftar secara mandiri untuk hadir dalam upacara serupa di Istana, namun tidak berhasil. Kegagalan itu justru membuatnya tidak menyangka saat akhirnya namanya tercantum dalam daftar undangan tahun ini.

Di balik kebahagiaannya, Welni menitipkan doa sederhana namun tulus kepada Presiden Prabowo Subianto. Baginya, memimpin negara sebesar Indonesia bukanlah perkara mudah, dan ia berharap sang presiden senantiasa diberikan kesehatan dan semangat. Ia juga berharap momentum ini bukan hanya miliknya, melainkan juga menjadi peluang bagi guru-guru lain di Kepulauan Seribu pada tahun-tahun berikutnya.

Tidak jauh berbeda, Ririn Yuniarsih, Kepala SMPN 285 Jakarta, membawa semangat yang lebih luas ke dalam undangan tersebut. Baginya, kehadirannya di Istana Merdeka bukan semata tentang kehormatan pribadi, melainkan sebuah pengingat bahwa anak-anak yang di tengah laut pun berhak atas kesempatan yang sama seperti anak-anak di daratan mana pun di Indonesia.

“Anak pulau tidak berbeda dengan anak di seluruh Nusantara,” kata Ririn dengan tegas.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kedalaman yang nyata. Di Kepulauan Seribu, jarak bukan hanya soal geografis. Ia kerap berubah menjadi batas yang memisahkan akses, fasilitas, bahkan harapan. Ririn ingin undangan ini menjadi simbol bahwa batas itu perlahan mulai diruntuhkan.



Follow Widget