“Kalau dipikirkan, gak mungkin kan orang seperti kita, orang kecil seperti saya ini mau dipanggil ke sana. Jadi ini terima kasih banyak dan sangat senang lah,” ucap Najib, jujur dan apa adanya.
Kejujuran itu justru yang paling kuat. Tidak ada retorika besar, tidak ada pidato panjang. Hanya rasa syukur yang tulus dari seseorang yang selama ini berada di pinggiran, yang hari ini merasa untuk pertama kalinya benar-benar diakui sebagai bagian dari bangsa yang sedang merayakan dirinya sendiri.
Menjelang peringatan kemerdekaan ke-81, cerita dari Kepulauan Seribu ini menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang apa artinya merayakan kemerdekaan. Bukan hanya tentang upacara megah, kibaran bendera Merah Putih, atau defile pasukan bersenjata di bawah langit Jakarta.
Kemerdekaan, dalam cerita Welni, Ririn, Ali, dan Najib, adalah tentang kesempatan untuk merasa hadir. Untuk tidak sekadar menonton dari jauh, tetapi benar-benar berdiri di tengah-tengah perayaan itu, sebagai bagian yang sah dan diakui dari republik ini.
Dan di sinilah letak maknanya yang paling dalam: ketika seorang nelayan dari pulau kecil di utara Jakarta bisa berdiri di halaman Istana Merdeka dan berkata kepada anak-anaknya kelak, bahwa ia pernah ada di sana, pada hari itu, ketika Indonesia berumur 81 tahun.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.