Dengan langkah.
Dengan napas.
Dengan keteguhan yang sederhana, tetapi nyata.
Jika kita bercermin, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang ironis. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak ia berpikir dan seringkali, semakin sedikit ia berani melangkah.
Kita mulai dihantui oleh kemungkinan gagal. Kita terlalu sibuk mempertimbangkan risiko. Kita menunggu waktu yang “tepat” yang tidak pernah benar-benar datang.
Akhirnya, kita diam.
Sementara itu, tiga anak kecil di puncak gunung justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka tidak menunggu sempurna. Mereka tidak menunggu yakin. Mereka hanya berjalan.



1 Komentar