CIBUBUR, JAKARTA – Di tengah riuhnya Jambore Nasional XII Gerakan Pramuka 2026 di Buperta Cibubur, ribuan Pramuka Penggalang dari seluruh penjuru Indonesia mendapat pengalaman yang tak biasa: mencelupkan canting ke cairan malam panas dan menggoreskan pola di atas kain putih. Bukan sekadar aktivitas seni, kegiatan membatik ini menjadi jembatan antara generasi muda dan warisan budaya leluhur yang telah diakui dunia.
Membatik bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran ekstra, dan kepekaan estetika untuk menghasilkan satu lembar kain batik yang layak dipandang. Namun justru di situlah nilai pembentukan karakternya—dan para peserta Jamnas XII merasakannya langsung.
Para peserta disambut dengan sesi pengenalan alat dan bahan membatik. Mereka diperkenalkan dengan canting, malam, kain mori, dan larutan pewarna. Satu per satu, fasilitator menjelaskan filosofi di balik motif-motif batik yang kaya makna—bahwa setiap goresan bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan penuh semangat, peserta mulai mencoba membuat pola di atas kain. Konsentrasi tergambar jelas di wajah mereka. Ada yang memilih motif klasik seperti parang atau kawung, ada pula yang menuangkan kreativitas dengan pola-pola baru yang segar. Suasana arena membatik pun berubah menjadi ruang ekspresi yang hidup dan penuh warna.
Proses membatik tidak berhenti di tahap menggambar pola. Peserta juga mengikuti tahapan pewarnaan—memilih warna, mencelupkan kain, hingga akhirnya menyaksikan motif yang mereka buat muncul perlahan setelah kain dilorot dari lilinnya. Momen itu, saat pola terungkap dari balik lapisan malam yang dilepas, menjadi klimaks yang mengundang decak kagum.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.