Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk gagal.
Ruang untuk menjadi kuat dengan cara mereka sendiri.
Hari Kartini seringkali kita kenang dalam bentuk seremoni kebaya, pidato, dan rangkaian kata tentang emansipasi. Namun Kartini tidak pernah berhenti pada simbol. Ia adalah keberanian untuk keluar dari batas, untuk berpikir merdeka, dan untuk menjadi lebih dari apa yang dunia harapkan.
Di puncak gunung itu, Kartini hadir dalam wujud yang berbeda.
Bukan dalam tulisan.
Bukan dalam pidato.
Tetapi dalam langkah.
Nafeeza, Damara, dan Zerina mungkin belum mengenal siapa itu Kartini. Mereka belum membaca sejarah panjang perjuangan perempuan. Namun apa yang mereka lakukan adalah cerminan dari semangat itu melangkah di ruang yang sering dianggap terlalu berat, terlalu jauh, atau bahkan terlalu berbahaya bagi mereka.



1 Komentar