JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Tumpukan makanan layak konsumsi yang berakhir di tempat sampah masih jadi masalah besar di Indonesia. Badan Pangan Nasional (Bapanas) kini mendorong sektor ritel untuk turun tangan lebih jauh, merangkul bank pangan dan komunitas penyelamat pangan agar bahan makanan yang masih aman dikonsumsi sampai ke tangan yang membutuhkan.
Dorongan ini disampaikan Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, dalam forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas pada Senin, 22 Juni 2026. Forum tersebut secara khusus membahas penguatan kolaborasi dalam penanganan sisa pangan atau waste, isu yang selama ini kerap luput dari perhatian publik meski dampaknya signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.
Nita menegaskan, ritel bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Posisinya sebagai penghubung antara produsen dan konsumen membuat sektor ini punya peran strategis dalam membangun ekosistem penyelamatan pangan yang berkelanjutan.
“Ritel memiliki peran penting dalam membangun ekosistem penyelamatan pangan yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan bank pangan dan penggiat penyelamatan pangan, sektor ritel dapat memperluas redistribusi pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi,” ujarnya.
Konsep redistribusi pangan ini sebenarnya sederhana. Produk makanan yang mendekati tanggal kedaluwarsa, kemasan rusak, atau kelebihan stok di gerai ritel, alih-alih dibuang, dialihkan ke bank pangan atau komunitas yang menyalurkannya kepada masyarakat kurang mampu.
Bapanas memandang langkah ini sebagai solusi dua arah: mengurangi limbah pangan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan akses pangan layak. Ke depan, pemerintah akan terus mendorong penguatan sinergi antar pemangku kepentingan, memperluas edukasi kepada masyarakat, dan merapikan sistem pendataan serta pelaporan kegiatan penyelamatan pangan agar lebih terstruktur.
Peran ritel, menurut Nita, tidak berhenti pada urusan logistik dan distribusi semata. Gerai-gerai ritel juga bisa menjadi kanal edukasi langsung bagi konsumen.
“Ritel juga dapat menjadi sarana edukasi bagi konsumen untuk lebih bijak dalam mengelola pangan dan mengurangi sisa pangan,” ungkapnya.
Edukasi semacam ini penting karena sisa pangan tidak hanya terjadi di level distribusi, tetapi juga di rumah tangga. konsumen dalam berbelanja, menyimpan, dan mengolah makanan turut menyumbang angka waste yang signifikan setiap tahunnya.
Dari sisi data, tren keterlibatan dunia usaha dalam penyelamatan pangan menunjukkan arah yang menggembirakan. Berdasarkan catatan Platform Stop Boros Pangan Bapanas per 18 Juni 2026, sektor ritel telah menyumbang 8,8 persen dari total mitra penyelamatan pangan yang terdaftar di platform tersebut.
Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi maknanya signifikan. Ia menjadi indikator bahwa pelaku usaha, khususnya ritel, mulai memandang isu sisa pangan sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata urusan pemerintah atau organisasi sosial.
Nita menilai, kolaborasi yang lebih luas antara ritel, bank pangan, dan organisasi penyelamatan pangan berpotensi memperbesar manfaat redistribusi bagi masyarakat luas. Semakin banyak titik kolaborasi, semakin besar pula jangkauan pangan yang bisa diselamatkan dan disalurkan.
Untuk memperkuat capaian ini, Bapanas turut menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) agar mendorong anggotanya lebih aktif dalam berbagai program penyelamatan pangan.
“Kontribusi sektor ritel yang semakin luas akan memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan,” kata Nita.
Ajakan ini mendapat respons positif dari kalangan pelaku usaha ritel. Direktur Eksekutif APRINDO, Dasep Suryanto, menilai pengurangan sisa pangan semestinya bukan sekadar program sampingan, melainkan bagian dari strategi bisnis yang dijalankan secara konsisten dan terukur.
Dasep memaparkan tiga langkah utama yang bisa ditempuh pelaku ritel dalam menekan sisa pangan. Pertama, membangun komitmen perusahaan secara tegas dan terstruktur.
Kedua, melakukan pengukuran serta menetapkan target pengurangan sisa pangan yang jelas dan dapat dievaluasi. Ketiga, menjalankan rencana aksi konkret yang berkelanjutan, bukan sekadar wacana atau program musiman.
“Pengurangan sisa pangan dapat dimulai dari komitmen perusahaan yang kuat, dilanjutkan dengan pengukuran yang jelas, dan diwujudkan melalui aksi nyata yang berkelanjutan,” kata Dasep.
Pandangan Dasep ini sejalan dengan kerangka kerja yang lazim diterapkan secara global dalam pengelolaan waste, di mana komitmen, pengukuran, dan aksi menjadi tiga pilar yang saling menguatkan. Tanpa komitmen, target sulit ditetapkan. Tanpa pengukuran, aksi tidak terarah.
Ke depan, sinergi antara Bapanas, APRINDO, bank pangan, dan komunitas penyelamat pangan diharapkan dapat terus diperluas. Bila kolaborasi ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin kontribusi sektor ritel dalam ekosistem penyelamatan pangan nasional akan terus meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan yang ingin dicapai pemerintah.
FAQ
Apa itu redistribusi pangan yang didorong Bapanas kepada sektor ritel?
Redistribusi pangan adalah upaya menyalurkan kembali pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi, namun tidak lagi dapat dijual secara komersial, kepada masyarakat yang membutuhkan melalui bank pangan atau komunitas penyelamat pangan.
Mengapa sektor ritel dianggap penting dalam upaya penyelamatan pangan nasional?
Karena posisinya sebagai penghubung antara produsen dan konsumen, ritel memiliki akses langsung terhadap stok pangan berlebih atau mendekati kedaluwarsa, sekaligus berpeluang menjadi kanal edukasi bagi konsumen untuk mengurangi sisa pangan.
Bagaimana kontribusi sektor ritel terhadap penyelamatan pangan di Indonesia saat ini?
Berdasarkan data Platform Stop Boros Pangan Bapanas per 18 Juni 2026, sektor ritel telah berkontribusi sebesar 8,8 persen dari total mitra penyelamatan pangan yang terdaftar, dan tren ini menunjukkan arah yang terus membaik.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.