Awal juga dikenal rutin berziarah ke makam kedua orang tuanya di Lingkungan Bone-bone, Kelurahan Maradekaya. Sebuah ritual yang, menurut Ruslin, tidak pernah ia tinggalkan meski jabatan silih berganti dan jarak antara Jakarta dan Takalar tidak pernah benar-benar terasa dekat.

Latar belakang keluarganya pun bukan latar belakang sembarangan. Awal merupakan putra pasangan almarhum Drs. H. Chairuddin Burhan, yang pernah berkarier di Lembaga Administrasi Negara, dan Dra. Hj. Hatma Tamma, M.Si., seorang akademisi dan dosen Universitas Hasanuddin. Dari keluarga intelektual itulah seorang anak yang kemudian menyelesaikan pendidikan doktoral Ilmu Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar pada 2024 — di tengah-tengah karier kepolisian yang tak pernah berhenti bergerak.

Sulawesi Selatan yang kini ia pimpin bukan provinsi yang bisa dikelola dengan pendekatan birokratis semata. Kompleksitas sosial, dinamika politik lokal, dan tantangan keamanan yang berlapis-lapis menuntut lebih dari sekadar kapasitas administratif. Dari kejahatan jalanan di Makassar yang tak kunjung reda, konflik agraria di kabupaten-kabupaten pelosok, hingga tekanan politik yang kerap berselimut kepentingan sempit — semua itu menanti Kapolda baru di mejanya.

Awal mewarisi tongkat komando Djuhandhani di tengah berbagai persoalan yang belum tuntas. Setiap pergantian pimpinan selalu melahirkan harapan baru dari masyarakat — harapan bahwa perubahan di puncak akan terasa hingga ke lapisan paling bawah, bukan sekadar pergantian nama di papan nama kantor.

Yang membedakan Awal dari pendahulu-pendahulunya adalah sesuatu yang tidak bisa diperoleh dari kursus kepemimpinan mana pun: ia memahami Sulawesi Selatan bukan hanya dari laporan intelijen dan data statistik, melainkan dari pengalaman hidup yang mengakar. Ia tahu bau tanah Takalar setelah hujan. Ia tahu di mana makam orang tuanya. Dan ia masih mau pulang ke sana tanpa satu pun mobil patroli di belakangnya.



Follow Widget