“Jambore bukan hanya tentang siapa yang unggul. Jambore adalah tentang siapa yang pulang membawa lebih banyak pengalaman, persaudaraan, pengetahuan, dan kenangan,” katanya penuh makna.
Kepada para pembina pendamping dan pimpinan kontingen, Adnan menitipkan tanggung jawab yang tidak ringan. Ia meminta mereka bukan sekadar hadir sebagai pengawas kegiatan, tetapi benar-benar menjadi orang tua, sahabat, sekaligus teladan bagi para peserta selama berada di Cibubur.
“Keberhasilan kontingen daerah Sulawesi Selatan bukan hanya dilihat dari apa yang diperoleh di arena Jambore, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga seluruh kontingen pulang dalam keadaan sehat, selamat, dan bahagia,” pesannya kepada para pembina.
Momen pelepasan itu terasa semakin istimewa ketika Adnan berbagi cerita pribadi yang mengharukan. Tiga puluh tahun lalu, tepatnya pada 1996, ia pun berdiri di posisi yang sama seperti para peserta hari ini — seorang pramuka muda yang dilepas untuk mengikuti jambore nasional.
“30 tahun yang lalu, saya juga berdiri seperti adik-adik yang ada di tempat ini. 30 tahun yang lalu, saya juga dilepas seperti adik-adik yang ada di sini,” kenangnya. Ia kemudian berharap, tiga puluh tahun ke depan, para peserta hari inilah yang akan berdiri di atas mimbar yang sama untuk melepas generasi pramuka berikutnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.