“Gerakan Pramuka harus menjadi rumah besar yang mampu mempersatukan berbagai perbedaan,” tegasnya di hadapan ribuan panitia yang memadati lapangan malam itu.
Pesan itu bukan retorika semata. Kak Budi Waseso mengingatkan bahwa para panitia boleh saja datang dengan bahasa yang berbeda-beda, mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing, dan membawa yang tak selalu sama. Namun di atas semua perbedaan itu, ada satu benang merah yang menyatukan mereka: nilai persaudaraan, penghormatan, kepedulian, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Pesan persatuan itu terasa relevan dan kontekstual. Jamnas XII memang bukan sekadar perhelatan kemah nasional. Ini adalah panggung besar yang mempertemukan generasi muda dari Sabang sampai Merauke, dari pelosok pegunungan hingga pesisir kepulauan, dalam satu bingkai kebangsaan yang hidup.
Pengukuhan ini secara hukum memberikan legitimasi penuh kepada seluruh panitia. Dengan mandat resmi yang telah dikantongi, mereka kini memiliki kewenangan untuk bergerak secara terstruktur dalam mempersiapkan dan menjalankan setiap tahapan kegiatan Jamnas XII secara bertanggung jawab.
Lapangan Kempi 2 Buperta Cibubur menjadi saksi bisu prosesi bersejarah itu. Kompleks perkemahan yang telah lama menjadi rumah bagi berbagai kegiatan kepramukaan nasional ini kembali dipenuhi semangat kolektif ribuan relawan berseragam cokelat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.