Momen ini bukan hanya simbol toleransi yang ditampilkan untuk kamera. Ia adalah cermin dari cara Indonesia telah lama memilih untuk hidup bersama—berbeda keyakinan, tetapi satu dalam harapan atas kedamaian, persatuan, dan masa depan bangsa yang lebih baik.
Puncak acara malam itu ditandai dengan lantunan Selawat Kebangsaan yang dipimpin Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Ribuan jemaah yang memadati lapangan Monas ikut melantunkan selawat bersama, menciptakan suasana yang sulit dilukiskan hanya dengan kata-kata.
Kehadiran para Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih serta sejumlah tokoh lintas agama lainnya menambah bobot acara tersebut. Bukan sebagai pejabat yang hadir untuk sekadar mengisi kursi, melainkan sebagai bagian dari barisan jemaah yang turut merasakan khidmatnya malam itu.
Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas malam itu menyampaikan pesan yang jauh melampaui perayaan ulang tahun kemerdekaan biasa. Delapan puluh satu tahun bukan angka kecil. Ia merupakan rentang waktu yang cukup panjang untuk menguji apakah sebuah bangsa yang lahir di atas keberagaman mampu bertahan, , dan tetap bersatu.
Jawaban malam itu terasa nyata: lebih dari seratus ribu orang berdiri bersama di bawah langit Jakarta, dari latar belakang yang berbeda-beda, dengan doa yang berbeda-beda pula, namun untuk tanah air yang satu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.