Tidak hanya soal barang, toko itu juga membuka fasilitas transaksi dan penarikan tunai bagi warga yang membutuhkan dana darurat. Ini menjadi angin segar di tengah keterbatasan akses perbankan pasca gempa, di mana mesin ATM bisa saja rusak atau antrean mengular panjang tanpa kepastian.
Warga yang datang tidak hanya disambut dengan rak-rak barang yang masih tersusun rapi, tetapi juga dengan sikap tenang dan penuh empati dari sang pemilik dan karyawannya. Dalam kondisi di mana kepanikan mudah menyebar, kehadiran toko yang buka dengan niat tulus menjadi semacam jangkar psikologis bagi komunitas sekitar.
Video yang beredar di media sosial merekam momen-momen ketika pemilik toko menyampaikan niatnya secara langsung kepada kamera. Tutur katanya tidak dibuat-buat. Tidak ada dramatisasi. Hanya kejujuran seorang pengusaha lokal yang memilih menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari kepanikan.
Respons publik pun membludak. Kolom komentar dipenuhi ungkapan kekaguman dan terima kasih. Banyak warganet yang menyebut tindakan pemilik Macimart sebagai contoh nyata solidaritas kemanusiaan yang seharusnya menjadi teladan — bukan hanya di NTT, tetapi di seluruh Indonesia.
Tidak sedikit yang membandingkan sikapnya dengan kisah-kisah sebaliknya: para spekulan yang menaikkan harga sembako saat bencana, atau pedagang yang memilih menutup toko demi menghindari risiko. Pemilik Macimart Reo memilih jalan yang berbeda — dan itulah yang membuatnya istimewa.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.