JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Nilai tukar rupiah merosot ke level Rp17.660 per dolar Amerika Serikat, menjadi salah satu tekanan terberat yang dihadapi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil tenang dan menegaskan bahwa kondisi ini bukan alasan untuk panik.

Purbaya menyampaikan sikapnya usai menghadiri seremoni penyerahan pesawat tempur dan rudal oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Tentara Nasional Indonesia di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Di tengah suasana yang sarat simbolisme kekuatan negara, Menkeu memilih diksi yang ringan namun meyakinkan.

“Enggak apa-apa. Nanti kita perbaiki. Pondasinya kan bagus,” ujar Purbaya singkat.

Pernyataan itu bukan sekadar ketenangan retoris. Purbaya menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen jangka pendek di pasar keuangan global, bukan cerminan dari lemahnya struktur ekonomi Indonesia secara fundamental.

Ia menegaskan bahwa fokus utama pemerintah bukan pada respons panik terhadap fluktuasi nilai tukar, melainkan menjaga fondasi ekonomi agar pembangunan nasional tidak terganggu. Dalam pandangannya, stabilitas jangka panjang jauh lebih penting daripada reaksi impulsif terhadap gejolak sesaat.

“Saya akan fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu,” katanya menegaskan arah kebijakan.

Salah satu instrumen yang akan diaktifkan secara lebih agresif adalah Bond Stabilization Fund atau BSF — skema intervensi Kementerian Keuangan di pasar obligasi. Langkah masuk ke pasar ini sebenarnya sudah dimulai sejak pekan lalu, namun Purbaya menyatakan intervensi akan diperbesar secara signifikan mulai hari ini.

Mekanisme kerja BSF cukup strategis. Ketika harga obligasi tertekan, investor asing yang memegang surat utang negara berpotensi mengalami kerugian modal atau capital loss. Kekhawatiran itulah yang kerap memicu eksodus modal asing secara bersamaan, yang pada akhirnya menekan nilai rupiah lebih dalam.

Dengan masuk ke pasar obligasi secara agresif, pemerintah berharap bisa menopang harga obligasi agar investor asing tidak panik dan memilih bertahan. Ketika arus keluar modal asing bisa diredam, tekanan terhadap rupiah pun diharapkan berkurang.

“Kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali. Asing yang pegang obligasi enggak keluar karena takut ada capital loss. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” jelas Purbaya.

Kata “sedikit” yang dipilih Purbaya mencerminkan ekspektasi yang realistis. Pemerintah tidak mengklaim bisa membalikkan tren pelemahan dalam semalam, tetapi berupaya menciptakan perlindungan bertahap yang memadai di tengah ketidakpastian global.

Di luar intervensi obligasi, pemerintah juga menyiapkan langkah-langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Namun Purbaya belum merinci kebijakan tambahan tersebut kepada publik.

Kondisi rupiah yang melemah tajam bukan fenomena tunggal Indonesia. Sejumlah mata uang negara berkembang menghadapi tekanan serupa akibat penguatan dolar AS yang dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi The Fed, ketegangan geopolitik global, serta sentimen risk-off investor internasional.

Dalam konteks itu, respons pemerintah Indonesia yang menekankan stabilitas jangka panjang ketimbang intervensi ad hoc jangka pendek mencerminkan pendekatan yang lebih terukur. BSF menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia di pasar valas, tetapi juga memperkuat sisi fiskal sebagai penyangga.

Pertanyaannya kini adalah seberapa besar amunisi yang dimiliki Kementerian Keuangan untuk menjalankan BSF secara konsisten, dan apakah kepercayaan investor asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia cukup kokoh untuk bertahan dari tekanan eksternal yang masih belum mereda.

Purbaya, setidaknya, memilih berdiri di sisi optimisme.

FAQ

Apa itu Bond Stabilization Fund (BSF) yang disebut Menteri Keuangan? BSF adalah skema intervensi Kementerian Keuangan di pasar obligasi negara. Tujuannya adalah menjaga harga obligasi tetap stabil sehingga investor, terutama asing, tidak panik menjual dan memicu arus keluar modal yang memperlemah rupiah.

Mengapa rupiah bisa melemah sampai level Rp17.660 per USD? Pelemahan rupiah umumnya dipicu kombinasi faktor global seperti penguatan dolar AS, kebijakan suku bunga tinggi The Fed, dan sentimen risk-off investor internasional, bukan semata-mata karena kondisi ekonomi domestik.

Apa langkah konkret pemerintah selain intervensi obligasi? Purbaya menyatakan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, namun belum mengungkapkan detailnya secara publik. Fokus utama tetap pada menjaga fondasi ekonomi agar pembangunan tidak terganggu.