Pemilihan kata “biadab” oleh seorang kepala negara dalam forum sekelas sidang tahunan MPR tentu bukan hal yang lumrah. Ini adalah sinyal politik sekaligus moral yang kuat — bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi sedikit pun upaya korupsi terhadap program yang menyentuh kebutuhan paling mendasar anak bangsa: makan.
Prabowo menyampaikan bahwa ia memahami ada sebagian masyarakat Indonesia yang mungkin tidak pernah menyaksikan secara langsung anak-anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan. Namun kenyataan itu ada, dan pemerintah memilih untuk tidak menutup mata.
MBG digambarkan Prabowo bukan sekadar program sosial biasa. Ini adalah fondasi dari seluruh strategi pembangunan sumber daya manusia yang ia usung. Menurutnya, pembangunan sejati dimulai dari hal paling mendasar: gizi yang cukup, sebelum ilmu bisa diserap.
“Tidak ada satu pun anak kita yang boleh belajar dalam keadaan lapar. Tidak ada anak yang bisa belajar dengan baik jika ia lapar,” ujar Prabowo, menegaskan landasan filosofis di balik program yang sudah berjalan dan kini hendak diperkuat itu.
Komitmen Presiden untuk melanjutkan program ini terasa lebih kuat dengan adanya pengumuman perbaikan dan efisiensi. Artinya, pemerintah tidak hanya ingin program ini bertahan, tapi juga ingin memastikan setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar sampai ke piring makan anak-anak Indonesia — bukan masuk ke kantong oknum yang tidak bertanggung jawab.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.