Marsinah adalah aktivis buruh yang dibunuh secara misterius pada 1993 setelah memimpin aksi mogok di pabrik PT Catur Putra Surya, Sidoarjo. Kasusnya tak pernah tuntas. Pelakunya tak pernah benar-benar diadili. Namun namanya justru hidup — menjadi simbol perlawanan buruh yang tak padam.

Kini, tiga dekade lebih setelah kematiannya, seorang presiden berdiri di depan kamarnya dan menyebut kasusnya sebagai cermin dari pengkhianatan terhadap nilai-nilai dasar republik.

Prabowo mengingatkan bahwa para pendiri bangsa telah meletakkan pondasi negara yang merangkul keberagaman — suku, agama, bahasa, dan ras — dalam satu kesatuan. Bukan untuk kepentingan segelintir orang, melainkan untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali.

Ia merujuk pada sila kelima Pancasila soal keadilan sosial, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian Indonesia dibangun di atas asas kekeluargaan. Yang kuat membantu yang lemah. Bukan sebaliknya.