Namun demikian, momen Jumat malam itu memiliki signifikansinya sendiri. Dalam lanskap politik Indonesia yang kerap dipenuhi oleh janji yang menguap begitu pemilihan usai, seorang presiden yang datang langsung—bukan mengirim menteri, bukan cukup dengan siaran pers—tetap memiliki bobotnya tersendiri.
Warga Senen yang kini menempati hunian baru itu tahu betul bedanya. Mereka yang selama belasan tahun terbiasa diabaikan, kini melihat kepala negara berdiri di depan rumah mereka, berbicara langsung, mendengarkan langsung.
Apakah satu kunjungan cukup untuk menghapus belasan tahun ketidakpastian? Tentu tidak. Apakah hunian baru otomatis menyelesaikan seluruh persoalan sosial-ekonomi warga relokasi? Juga tidak.
Tapi malam itu, setidaknya, ada sesuatu yang nyata terjadi. Bukan di ruang sidang, bukan di konferensi pers, bukan di unggahan media sosial yang dipoles tim komunikasi istana—melainkan di sebuah lingkungan baru di Jakarta, di bawah cahaya lampu jalan, di antara warga yang baru saja mulai percaya bahwa hidup mereka bisa lebih baik.
Presiden Prabowo menutup kunjungan itu dengan harapan yang disampaikan dengan tulus: semoga hunian baru ini menjadi tempat tinggal yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi seluruh keluarga.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.