Di sinilah ironi Jakarta berbicara pelan namun tajam. Sebuah kota yang sudah lama terbiasa melihat warganya hidup berdampingan dengan rel, dengan sungai yang meluap, dengan tanah yang tak pernah benar-benar menjadi milik mereka—kini menyaksikan satu fragmen kecil dari janji besar yang, setidaknya untuk malam ini, terbukti bukan sekadar retorika kampanye.
Prabowo tidak sekadar meninjau bangunan baru lalu pergi. Ia menyempatkan diri berbincang langsung dengan warga, mendengar cerita mereka tentang proses pindah, tentang perasaan pertama kali tidur di hunian yang sah secara administratif, tentang harapan yang mulai berani kembali.
Dalam perbincangan itu, Presiden menitipkan pesan yang sederhana namun penuh makna: lingkungan yang sudah baik ini harus dirawat bersama. Bukan tugas pemerintah seorang, bukan tanggung jawab satu RT atau satu RW—melainkan komitmen kolektif seluruh penghuni.
Pesan itu terdengar bijak. Dan juga—bagi mereka yang terbiasa membaca antara baris kebijakan publik—sedikit bernuansa pengingat bahwa pemerintah sudah menjalankan bagiannya, dan kini giliran warga yang menjaga.
Tentu saja, program relokasi tidak pernah sesederhana memindahkan orang dari titik A ke titik B. Di balik setiap keberhasilan seperti malam ini, ada warga lain yang proses relokasinya belum tuntas, ada lokasi baru yang fasilitasnya belum lengkap, ada anak-anak yang harus berganti sekolah dan kehilangan teman bermain mereka. Realitas program besar selalu lebih kompleks dari satu kunjungan malam yang hangat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.