Salah satu perintah yang cukup teknis dan jarang muncul dalam rapat-rapat sebelumnya adalah instruksi kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional. Prabowo meminta BRIN berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, TNI, dan Polri untuk memetakan kebutuhan teknologi desalinasi air laut dan air payau. Tidak sekadar wacana, pemetaan itu harus menyentuh hal-hal konkret: penentuan lokasi prioritas, jumlah peralatan yang dibutuhkan, serta estimasi anggaran yang harus disiapkan.
Langkah ini mencerminkan kekhawatiran serius pemerintah terhadap ketersediaan air bersih di wilayah-wilayah yang selama ini mengandalkan curah hujan sebagai sumber utamanya. Dengan El Niño yang diperkirakan mengurangi curah hujan secara signifikan, teknologi pengolahan air alternatif menjadi opsi yang tidak bisa diabaikan lebih lama.
Di sektor pertanian, Presiden juga mendorong optimalisasi lahan tanam, termasuk di kawasan dataran tinggi yang selama ini belum digarap secara maksimal. Peningkatan produktivitas lahan menjadi salah satu tameng utama agar pasokan pangan tidak terganggu meski musim kemarau berlangsung panjang.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan mendapat perhatian yang tidak kalah serius dalam rapat tersebut. Prabowo secara khusus memerintahkan kesiapan helikopter water bombing di wilayah-wilayah yang masuk kategori rawan. Pengadaan pesawat angkut strategis juga diminta dipercepat, disertai penyiapan personel dan peralatan yang memadai untuk memadamkan titik api secepat mungkin.
Teknologi modern pun dikerahkan dalam strategi pencegahan karhutla kali ini. Presiden mengarahkan pengoperasian drone pemadam kebakaran sebagai bagian dari penguatan kapasitas udara pemerintah. Tidak hanya memadamkan, sistem pemantauan titik api secara real time juga diminta dikembangkan agar kebakaran bisa dideteksi jauh sebelum meluas dan sulit dikendalikan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.