Selain armada udara, pemerintah juga mengirimkan 20 unit ekskavator untuk membuka jalur dan membangun sekat bakar di kawasan gambut. Personel yang dikerahkan pun tidak tanggung-tanggung: 11.567 orang dari berbagai unsur, mulai TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga relawan masyarakat, siap bergerak di lapangan.
Yang menarik—dan sedikit menggelitik nalar—adalah salah satu inovasi yang turut diumumkan dalam rapat tersebut: pengembangan bahan pemadam api berbahan baku ubi atau singkong. Di tengah kepulan asap dan krisis lahan gambut yang sudah menahun, Indonesia rupanya menemukan secercah harapan dari umbi-umbian. Apakah ini terobosan jenius atau sekadar akal-akalan darurat, waktu yang akan menjawab.
Inovasi itu tentu tidak bisa berdiri sendiri. Prabowo juga memerintahkan penguatan infrastruktur jangka panjang di kawasan gambut, termasuk memperbanyak sumur bor, embung, dan kanal. Tiga kata itu—sumur bor, embung, kanal—sudah sering terdengar dalam setiap rapat karhutla selama bertahun-tahun. Pertanyaannya hanya satu: apakah kali ini realisasinya akan mengikuti janji?
Untuk urusan sosialisasi dan edukasi masyarakat, pemerintah menyiapkan 1.000 perwira TNI dan Polri yang akan diterjunkan ke pelosok desa. Mereka bertugas menjelaskan bahaya membakar lahan sekaligus mendorong kesadaran warga untuk melaporkan titik api sedini mungkin. Pendekatan berbasis komunitas ini diharapkan memutus mata rantai membuka lahan dengan cara membakar yang masih menjadi biang keladi utama karhutla setiap tahun.
Presiden dengan tegas meminta seluruh jajaran untuk bergerak cepat dan tidak berhenti pada tahap pemadaman semata. Evaluasi lapangan harus dilakukan secara berkala, kebutuhan tambahan harus segera dipenuhi, dan koordinasi antarinstansi tidak boleh terputus hanya karena api di satu titik sudah padam.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.