Yang membuat pencapaian ini semakin bernilai adalah konteks globalnya. Salah satu kandidat vaksin yang dikembangkan BRIN menyasar Plasmodium vivax, jenis parasit malaria yang hingga kini belum memiliki vaksin efektif. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya memecahkan masalah kesehatannya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada dunia.
Selain vaksin, BRIN juga mengembangkan -obatan berbasis herbal. Saat ini terdapat 19 kandidat herbal yang tengah diproses untuk naik ke level fitofarmaka, yaitu standar herbal tertinggi yang diakui secara klinis di Indonesia. Arif menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional, mengurangi ketergantungan pada bahan baku dan produk farmasi impor.
Di luar hutan, sawit, dan laboratorium vaksin, ada persoalan yang menyentuh keseharian masyarakat paling bawah, yaitu sampah. Presiden Prabowo mendorong BRIN agar teknologi hasil riset tidak hanya berhenti di tingkat prototype, tetapi segera diimplementasikan di tingkat rumah tangga dan desa.
Arif Satria mengakui bahwa BRIN memang bukan lembaga produksi. Tugasnya adalah menciptakan prototype dan membuktikan bahwa inovasi itu bekerja. Namun Presiden Prabowo menginginkan lebih dari itu, ia ingin prototype tersebut benar-benar sampai ke tangan masyarakat dan memberikan manfaat nyata.
Untuk mewujudkan hal itu, BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Perguruan tinggi di seluruh Indonesia akan dilibatkan sebagai jembatan antara riset dan masyarakat, membantu penerapan teknologi pengelolaan sampah di desa-desa yang selama ini kekurangan solusi praktis.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.