Bidang kesehatan pun mendapat perhatian. Nota kesepahaman di sektor ini membuka peluang kerja sama dalam pengembangan layanan medis, riset farmasi, atau bahkan produksi alat kesehatan bersama—sebuah kebutuhan yang semakin relevan pascapandemi global beberapa tahun lalu.
Kerja sama di bidang akreditasi nasional juga resmi ditandatangani. Komite Akreditasi Nasional (KAN) Republik Indonesia menjadi pihak yang meneken nota kesepahaman ini, yang berpotensi mempermudah pengakuan standar produk dan layanan antara kedua negara.
Satu pilar besar lainnya yang memperkuat hubungan ekonomi adalah implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (IEAEU FTA). Perjanjian perdagangan bebas ini membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk Indonesia ke kawasan Eurasia, sekaligus menarik masuk investasi dan produk dari negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia ke pasar domestik.
Belarus sendiri merupakan salah satu negara anggota Uni Ekonomi Eurasia bersama Rusia, Kazakhstan, Armenia, dan Kirgistan. Penguatan hubungan dengan Minsk secara tidak langsung juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta kerja sama ekonomi Eurasia secara keseluruhan.
Dari sisi geopolitik, pertemuan ini terjadi di tengah tatanan dunia yang sedang bergeser. Banyak negara berkembang tengah mencari mitra baru di luar poros tradisional Barat. Indonesia, dengan kebijakan luar negeri bebas aktifnya, memilih untuk memperluas jaringan kemitraan ke berbagai penjuru—termasuk ke Eropa Timur.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.