“Jadi sangat adaptif sekarang,” ujar Romo Syafii menutup keterangannya, menekankan bahwa program ini dirancang untuk menyesuaikan diri dengan keunikan budaya dan tradisi tiap pesantren, bukan sebaliknya.

Pendekatan adaptif ini dinilai penting mengingat keragaman karakter pesantren di seluruh Indonesia. Dari pesantren salaf yang kental dengan tradisi hingga pesantren modern dengan sistem pendidikan terstruktur, masing-masing memiliki ritme kehidupan harian yang berbeda. Memaksakan satu pola baku justru berpotensi menghambat jalannya program di lapangan.

Selama ini, implementasi MBG di lingkungan pesantren masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur dapur hingga perbedaan jadwal makan yang tidak seragam. Kebijakan baru ini diharapkan menjadi terobosan yang membuka akses lebih luas bagi jutaan santri di seluruh nusantara untuk menikmati manfaat program makan bergizi gratis yang menjadi salah satu prioritas nasional pemerintah.

Pesantren yang memenuhi syarat kini tinggal menunggu proses pengajuan ke BGN untuk segera mewujudkan dapur mandiri mereka. Pemerintah menyebut proses ini akan dipermudah demi mendukung percepatan yang diharapkan bisa dirasakan para santri dalam waktu dekat.