Seruan ini bukan tanpa konteks. Kepercayaan publik terhadap institusi Polri dalam beberapa waktu terakhir terus mendapat ujian. Berbagai kasus yang menyeret nama anggota kepolisian membuat masyarakat semakin kritis dan tak segan melontarkan kritik terbuka kepada institusi penegak hukum terbesar di Indonesia itu.

Suyudi tampaknya sadar betul bahwa citra Polri tidak bisa diperbaiki hanya lewat kebijakan di atas kertas. Perubahan nyata harus dimulai dari cara setiap anggota bersikap di lapangan, terutama saat berhadapan langsung dengan masyarakat yang datang membawa persoalan.

Dalam dunia kepolisian modern, pendekatan berbasis empati bukan hal baru. Banyak negara telah membuktikan bahwa polisi yang dipercaya masyarakat adalah polisi yang mampu hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra warga dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.

Di Indonesia, transformasi semacam itu masih menjadi pekerjaan rumah besar. Polri dengan lebih dari 400 ribu personel yang tersebar dari Sabang hingga Merauke menghadapi tantangan yang tidak kecil untuk menyeragamkan budaya pelayanan yang berorientasi pada masyarakat.

Pesan Suyudi di media sosial itu, meski terlihat sederhana, sejatinya mengandung tuntutan yang berat. Ia bukan hanya berbicara kepada para jenderal di markas besar, melainkan kepada seluruh polisi di tingkat paling bawah, mulai dari penjaga pos Polsek hingga anggota yang bertugas di pelosok daerah terpencil.



Follow Widget