Indonesia sendiri sudah memiliki Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) sejak 2016, namun implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan besar: konflik kepentingan antara ekonomi lokal dan pelestarian lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum di kawasan terpencil.

Di tengah tekanan global untuk mencapai target net-zero emisi, penelitian ini menjadi pengingat bahwa solusi iklim tidak bisa mengabaikan apa yang tersimpan jauh di bawah rawa-rawa tropis yang selama ini luput dari perhatian.

FAQ

Mengapa lahan gambut begitu penting bagi iklim bumi? Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar — lebih banyak dari ekosistem daratan mana pun — meskipun hanya mencakup kurang dari 3% permukaan bumi. Ketika gambut dirusak atau dikeringkan, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun terlepas ke atmosfer dan memperparah pemanasan global.

Mengapa pertanian skala kecil juga berbahaya bagi gambut, tidak hanya korporasi besar? Di negara seperti Peru dan DRC, jutaan petani kecil membuka lahan gambut untuk bertahan hidup. Meski skala per individu kecil, dampak kolektifnya sangat besar. Di DRC, pertanian skala kecil saja bertanggung jawab atas 93% konversi gambut dan 94% emisi terkait.

Apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan kerusakan gambut? Para ilmuwan merekomendasikan dua langkah utama: menghentikan penggunaan api dalam pembukaan lahan gambut, dan melakukan pembasahan kembali (rewetting) terhadap gambut yang sudah dikeringkan. Menjaga gambut tetap basah secara efektif menghambat dekomposisi dan emisi karbon jangka panjang.