MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Lahan gambut tropis di Indonesia, Peru, dan Republik Demokratik Kongo (DRC) kini menghadapi ancaman serius. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa pertanian — bukan industri berat atau penambangan — adalah biang keladi utama di balik hilangnya hamparan gambut yang menjadi penyangga iklim bumi.

Temuan ini menjadi peringatan keras bagi dunia. Lahan gambut memang hanya menutupi kurang dari 3% daratan bumi, namun kemampuannya menyerap karbon melampaui ekosistem daratan mana pun. Ketika gambut rusak, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas seketika ke atmosfer.

Para peneliti menganalisis citra satelit dari tahun 2020 hingga 2021 untuk memetakan faktor-faktor yang mendorong konversi lahan gambut di tiga negara tersebut. Hasilnya mengejutkan: meskipun penebangan hutan, pertambangan, dan pembangunan jalan turut berperan, pertanian mendominasi sebagai penyebab tunggal terbesar di ketiga wilayah itu.

Di Indonesia, pertanian secara keseluruhan menyumbang 67% dari total konversi lahan gambut. Pertanian skala besar menjadi aktor utama di sini, yang mencerminkan pola industri kelapa sawit dan komoditas ekspor lainnya yang sudah lama menjadi sorotan internasional.