Gambaran berbeda terlihat di Peru. Di sana, pertanian skala kecil oleh petani lokal menjadi penyebab dominan, menyumbang 61% dari konversi lahan gambut. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap gambut tidak melulu datang dari korporasi besar, melainkan juga dari kebutuhan hidup jutaan petani kecil.
Yang paling dramatis terjadi di DRC. Pertanian skala kecil di sana menyumbang 93% dari seluruh konversi lahan gambut dan 94% dari total emisi. Tidak ada kontribusi signifikan dari pertanian skala besar, menjadikan DRC sebagai cermin dari krisis gambut yang didorong oleh kemiskinan dan ketergantungan pada lahan.
Cara pembukaan lahan menjadi faktor yang memperburuk situasi. Di ketiga negara tersebut, lahan gambut kerap dibuka dengan cara dibakar — sebuah metode murah dan cepat, namun dengan konsekuensi lingkungan yang luar biasa besar.
Studi ini menemukan bahwa emisi awal dari kebakaran pembukaan lahan gambut pada 2020 mencapai 19 hingga 20 kali lebih tinggi dibandingkan emisi dari pelapukan gambut pada tahun berikutnya. Lonjakan emisi ini terjadi karena api dengan cepat melepaskan karbon yang tersimpan di vegetasi sekaligus di dalam tanah gambut itu sendiri.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.