“Kebakaran melepaskan jumlah gas rumah kaca yang sangat tinggi dalam waktu yang sangat singkat,” kata Karimon Nesha, penulis utama studi ini dari Wageningen University & Research di Belanda, seperti dikutip Mongabay pada Rabu, 13 Mei 2026.

Namun ancaman dari gambut tidak berhenti setelah api padam. Para ilmuwan mengingatkan bahwa gambut yang telah dikeringkan akan terus terurai selama puluhan tahun ke depan. Dalam jangka panjang, emisi kumulatif dari dekomposisi ini bisa menyamai — bahkan melampaui — emisi dari pembakaran awal.

Ini menjadikan lahan gambut sebagai “bom waktu” karbon yang tidak bisa diabaikan dalam agenda perubahan iklim global. Kerusakan yang terjadi hari ini akan terus menghasilkan emisi jauh setelah generasi yang merusaknya telah tiada.

Emisi gas rumah kaca tertinggi dalam studi ini ditemukan di DRC, yang merupakan rumah bagi Cuvette Centrale — lahan gambut tropis terluas di dunia. Namun temuan ini tidak lepas dari perdebatan ilmiah.