Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Dalam kerangka hukum Indonesia, platform digital yang membiarkan konten ilegal beredar di layanannya dapat dikenai sanksi. Meutya ingin memastikan pesan itu dipahami—dan dipatuhi.
Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah seberapa jauh kesadaran kolektif ini benar-benar bisa dibangun. Edukasi membutuhkan waktu, sementara algoritma judi online bekerja tanpa henti, setiap detik, menjangkau siapa saja yang memiliki ponsel dan koneksi internet.
Orang tua, guru, tokoh masyarakat, hingga pemuka agama—semua diminta mengambil peran. Bukan sebagai pelengkap kebijakan pemerintah, melainkan sebagai lini pertahanan utama yang justru paling dekat dengan anak-anak.
Data 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun yang sudah terpapar judi online seharusnya menjadi titik balik. Bukan angka yang dibaca lalu dilupakan, melainkan cermin yang memaksa kita semua untuk bertanya: apa yang sudah kita lakukan, dan apa yang masih harus segera dikerjakan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.