Solusi jangka pendek yang terus-menerus diperpanjang pada akhirnya menjadi pengganti solusi jangka panjang yang tidak pernah selesai dibangun. Infrastruktur irigasi yang memadai, sistem drainase yang fungsional, embung yang tersebar merata di sentra-sentra pertanian — semua itu harusnya sudah ada sebelum El Niño datang, bukan sedang diributkan ketika sawah sudah mengering.

Pemerintah juga menjanjikan dukungan sarana produksi bagi petani yang terdampak. Ini mencakup ketersediaan benih, pupuk, dan tentu saja air. Komitmen yang, jika benar-benar diwujudkan secara merata dan tidak hanya di lokasi yang mudah dijangkau tim kamera, akan sangat berarti bagi jutaan petani kecil yang tidak punya cadangan modal untuk bertahan dari gagal panen.

Ada yang luput dari narasi resmi ini: suara petaninya sendiri. Pernyataan-pernyataan dari Amran terdengar tegas dan penuh semangat — tapi tidak ada satu pun kutipan dari petani yang sawahnya terdampak, tidak ada data berapa lahan yang sudah kritis, tidak ada peta sebaran wilayah prioritas pompanisasi. Yang ada hanya optimisme institusional yang dikemas rapi dalam kalimat-kalimat aktif.

Musim El Niño akan berlalu. Sawah akan kembali basah ketika hujan datang. Dan ketika itu terjadi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah tahu berapa banyak pompa yang benar-benar dipasang, berapa hektare lahan yang berhasil diselamatkan, dan berapa petani yang akhirnya tetap merugi meski pemerintah sudah “turun tangan.”

Tapi setidaknya, kita punya satu hal yang pasti: kutipan heroik dari sang menteri sudah tersimpan rapi di arsip media.



Follow Widget