Penghentian sesaat itu justru menjadi momen yang membuka mata banyak pihak. Apa yang semula dianggap wajar dan rutin, mendadak terasa penting ketika tidak ada. Bukan hanya bagi siswa yang biasa menerima makanan, melainkan juga bagi orang tua yang selama ini menjadikan program ini sebagai bagian dari perencanaan harian mereka.

Fitriani bukan satu-satunya yang merasakan hal ini. Di berbagai penjuru daerah tempat program MBG berjalan, cerita-cerita serupa kerap muncul ke permukaan. Para ibu yang biasanya tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan bekal, para ayah yang penghasilannya pas-pasan namun tetap ingin memastikan anaknya tidak lapar saat belajar, serta para guru yang menyaksikan langsung bagaimana anak-anak menjadi lebih fokus setelah mendapat makan siang yang layak.

Dimensi sosial dari program ini memang tidak bisa dilepaskan dari realitas ekonomi yang dialami sebagian besar keluarga di daerah seperti Sinjai. Kabupaten yang terletak di pesisir timur Sulawesi Selatan ini memiliki banyak keluarga dengan sumber penghasilan yang bergantung pada sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan kecil. Bagi mereka, penghematan dari biaya makan siang anak di sekolah bukan hal sepele.

Menurut sejumlah kalangan, keberhasilan program seperti MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang terdistribusi, melainkan juga dari dampaknya terhadap ketahanan gizi anak-anak dan stabilitas ekonomi rumah tangga penerima manfaat. Dua hal itulah yang terasa nyata dalam pengalaman Fitriani.

Fitriani mengakhiri unggahannya dengan harapan yang sederhana namun penuh makna, bahwa program MBG dapat terus berjalan tanpa gangguan dan menjangkau lebih banyak keluarga yang membutuhkan, terutama mereka yang hidup dengan penghasilan terbatas. Harapan itu bukan sekadar keinginan pribadi, melainkan suara dari banyak keluarga yang selama ini berjalan dalam sunyi, berharap kebijakan-kebijakan besar benar-benar turun ke bumi dan menyentuh kehidupan mereka secara langsung.

Kisah Fitriani adalah pengingat bahwa di balik angka-angka anggaran dan target program, ada wajah-wajah nyata yang menanti, anak-anak yang butuh makan, dan orang tua yang butuh diringankan bebannya.



Follow Widget