Kehadiran nama-nama dari pihak swasta memperkuat indikasi bahwa dugaan korupsi ini melibatkan kolusi antara pejabat di dalam lembaga dengan mitra di luar. Pola seperti ini bukan hal baru dalam kasus pengadaan dan pengelolaan anggaran pemerintah — namun ketika menyangkut dana kebencanaan, dimensi moralnya jauh lebih berat.

Dana siap pakai kebencanaan adalah instrumen yang dirancang untuk bergerak cepat saat bencana melanda. Uang itu seharusnya mengalir ke tangan korban longsor, banjir, atau gempa dalam hitungan jam, bukan tersangkut di kantong oknum pejabat dan rekanan. Ketika dana itu diselewengkan, yang dirugikan bukan sekadar negara secara administratif, melainkan warga yang tengah dalam kondisi darurat.

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Sepanjang sejarah, BNPB berulang kali menangani bencana besar — dari tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, Palu, Cianjur, hingga deretan banjir dan kebakaran hutan yang tak pernah berhenti. Di balik semua respons itu, ada anggaran besar yang bergerak cepat tanpa mekanisme pengawasan yang selalu memadai.

Celah itulah yang diduga dimanfaatkan. KPK belum merinci secara terbuka nilai dugaan kerugian negara dalam kasus ini, maupun modus operandi lengkap para tersangka. Namun OTT adalah metode yang dirancang untuk menangkap pelaku saat proses tindak pidana tengah atau baru saja berlangsung — artinya, ada indikasi kuat bahwa aliran uang itu sedang berjalan ketika aparat bergerak.

Posisi Gabriel Purwaka Sigit sebagai PPK patut dicermati. Dalam sistem pengadaan pemerintah, PPK adalah pejabat yang bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kontrak. Ia adalah titik kendali utama dalam setiap transaksi anggaran. Jika PPK terlibat dalam persekongkolan dengan pihak swasta, maka sistem pengadaan dari hulu ke hilir bisa dikangkangi.



Follow Widget