MALUKU, PUNGGAWANEWS – Bukan kapal pesiar. Bukan simbol kemewahan. Klinik Apung Said Tuhuleley adalah bukti bahwa di negeri seribu pulau ini, kadang dokter harus berlayar dulu sebelum bisa memeriksa pasiennya.
Indonesia menyimpan paradoks yang sudah lama diketahui tetapi belum tuntas diselesaikan. Di kota besar, rumah sakit dapat dicapai dalam hitungan menit. Di pulau-pulau terpencil Maluku, sekadar mendapatkan pemeriksaan dasar bisa berarti menunggu kapal, menyeberangi laut, lalu menempuh perjalanan lagi. Jarak menuju dokter tidak diukur dalam kilometer, melainkan dalam waktu dan biaya.
Kondisi inilah yang mendorong Muhammadiyah melalui Lazismu menghadirkan sebuah solusi yang tak biasa. Mereka membangun kapal berbasis yacht yang difungsikan sebagai klinik bergerak. Kapal itu diberi nama Klinik Apung Said Tuhuleley, atau disingkat KAST, dan sejak hari pertama kehadirannya sudah memancing banyak pandangan—termasuk yang keliru.
Biaya pembangunannya memang tidak kecil. Sekitar Rp 2 miliar dikumpulkan dari sumbangan masyarakat melalui Lazismu pada 2017. Angka itu cukup besar untuk sebuah kapal, dan bentuknya yang berbasis yacht memang mudah memancing kesan mewah. Namun sejak awal, fungsi kapal ini bukan untuk pelayaran pribadi. Ia lahir untuk menjangkau mereka yang selama ini tidak terjangkau.
KAST dirancang dengan spesifikasi yang mendukung perjalanan antarpulau. Panjangnya sekitar 15 meter dengan lebar sekitar 3,5 meter. Mesinnya mampu menghasilkan tenaga sekitar 750 PK—cukup untuk mengarungi perairan Maluku yang terkenal tidak selalu bersahabat. Kapal ini bukan untuk dipajang, melainkan untuk terus bergerak.
Presiden Joko Widodo meresmikan KAST di Ambon pada 24 Februari 2017, bersamaan dengan penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah. Satu hari setelah peresmian, kapal langsung menjalankan misi pertamanya menuju Saparua dan Haruku di Maluku Tengah. Tidak ada waktu yang terbuang untuk sekadar seremoni.
Dalam pelayaran perdana itu, KAST membawa tiga dokter, lima perawat, dan seorang apoteker dari jaringan kesehatan Muhammadiyah. Semua pelayanan diberikan secara gratis kepada warga. Bagi sebagian masyarakat di pulau-pulau tersebut, itulah pertama kalinya mereka diperiksa dokter tanpa harus menyeberangi laut terlebih dahulu.
Nama Said Tuhuleley yang melekat pada kapal ini bukan sekadar penghormatan simbolis. Said lahir di Kulur, Saparua, Maluku Tengah, pada 22 Mei 1953. Ia dikenal aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat di lingkungan Muhammadiyah, termasuk pernah memimpin Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah. Ia meninggal pada 9 Juni 2015 dalam usia 62 tahun.
Kira-kira dua tahun setelah kepergiannya, namanya diabadikan pada kapal yang meneruskan semangat pengabdiannya. Arah kerja KAST—membawa layanan langsung ke masyarakat yang jauh dari pusat pelayanan—sejalan dengan prinsip pemberdayaan yang selama bertahun-tahun menjadi jiwa dari aktivitas Said Tuhuleley.
Setelah pelayaran perdana ke Saparua dan Haruku, KAST terus memperluas jangkauannya. Banda Besar, Banda Neira, Hatta, Rhun, hingga Pulau Ay menjadi sebagian dari wilayah yang pernah disambangi. Setiap singgahan membawa cerita yang berbeda, karena kebutuhan setiap pulau pun tidak selalu sama.
Di satu wilayah, warga paling membutuhkan layanan medis. Di tempat lain, persoalannya lebih pada pendidikan anak atau sarana produksi petani dan nelayan. Karena itu, muatan KAST pun berkembang lebih dari sekadar dan tenaga dokter. Bantuan sembako, perlengkapan sekolah, alat pertanian, hingga dukungan untuk kegiatan perikanan ikut dibawa dalam berbagai ekspedisi.
Di Negeri Kulur, Saparua, relawan yang datang bersama KAST bahkan terlibat dalam menghidupkan kembali Taman Pendidikan Al-Qur’an yang sempat tidak aktif. Satu perjalanan kapal bisa membawa lebih dari satu jenis manfaat. Bukan karena ingin terlihat serba bisa, melainkan karena kebutuhan masyarakat memang tidak datang dalam satu warna.
Yang penting dicatat: layanan KAST tidak dibatasi untuk warga Muhammadiyah atau kelompok agama tertentu saja. Program kemanusiaannya terbuka untuk semua, tanpa memandang latar belakang. Di Maluku, dengan masyarakat yang beragam secara agama dan budaya, prinsip ini bukan formalitas. Ini fondasi.
Salah satu contoh nyata adalah distribusi panel surya. Bantuan tidak hanya diberikan kepada masjid, tetapi juga kepada gereja yang membutuhkan akses energi. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa KAST menjalankan misinya berdasarkan kebutuhan, bukan identitas penerima.
Operasional KAST juga tidak berjalan sendiri. Lazismu menjadi penggerak utama, sementara jaringan kesehatan Muhammadiyah serta sejumlah lembaga filantropi turut mendukung. Pelayanan ke wilayah terpencil membutuhkan tenaga, logistik, dan biaya yang tidak sedikit. Kolaborasi menjadi syarat, bukan pilihan.
Pada 2023, Lazismu bersama BAZNAS kembali menjalankan pelayanan kesehatan gratis di kawasan terpencil Maluku dengan keterlibatan tim KAST. Ini penting dicatat: KAST bukan proyek yang hanya ramai ketika baru diresmikan lalu perlahan dilupakan. Enam tahun setelah peluncurannya, kapal itu masih berlayar.
Tentu saja, klinik apung bukan mujarab untuk seluruh persoalan kesehatan di daerah terpencil. Kapasitas kapal terbatas. Biaya operasional perjalanan laut tidak murah. Masyarakat di kepulauan tetap membutuhkan puskesmas yang kuat, tenaga kesehatan yang menetap, dan sistem rujukan yang andal.
Namun KAST mengisi celah yang nyata: jarak. Ketika masyarakat sulit datang menuju fasilitas kesehatan, layanan bergerak bisa memperpendek hambatan itu. Dokter, , dan bantuan bisa lebih dahulu mendatangi wilayah yang selama ini berada jauh dari pusat pelayanan. Dalam konteks kepulauan, pendekatan ini bukan kemewahan—ini kepraktisan.
Di sinilah angka Rp 2 miliar tadi perlu dilihat dari sisi yang berbeda. Sebuah aset memang bisa terlihat mahal apabila hanya dinilai dari bentuk fisik dan harganya. Penilaiannya berubah ketika aset tersebut digunakan berulang kali—membawa dokter, , pendidikan, dan bantuan kepada ribuan orang di berbagai pulau selama bertahun-tahun.
Dana yang dikumpulkan dari masyarakat tidak semuanya diwujudkan sebagai bantuan yang langsung habis setelah dibagikan. Sebagian diubah menjadi sarana yang bisa dipakai berkali-kali untuk berbagai misi kemanusiaan. Satu kapal, banyak ekspedisi, manfaat yang terus bertambah.
Kisah KAST juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan satu formula. Negara kepulauan membutuhkan cara pelayanan yang menyesuaikan diri dengan geografi dan karakter wilayahnya. Solusi yang bekerja di Jakarta belum tentu relevan di pulau kecil yang jalur utamanya adalah laut.
Di wilayah seperti itu, kapal bukan kemewahan. Kapal adalah kendaraan paling masuk akal untuk menjangkau masyarakat secara langsung. Dan ketika kapal itu membawa dokter, , buku pelajaran, serta sembako—ia bukan lagi sekadar kendaraan. Ia menjadi sistem layanan yang bergerak.
Klinik Apung Said Tuhuleley menunjukkan satu hal sederhana yang sering terlupakan dalam perdebatan kebijakan: pelayanan tidak selalu harus menunggu di satu tempat. Kadang, dokter dan bantuanlah yang harus menyalakan mesin, lalu berlayar mendatangi mereka yang sudah terlalu lama menunggu.
FAQ
Apa itu Klinik Apung Said Tuhuleley (KAST)?
KAST adalah kapal berbasis yacht yang difungsikan sebagai klinik bergerak oleh Muhammadiyah melalui Lazismu. Diresmikan pada 24 Februari 2017 di Ambon, kapal ini menjangkau masyarakat di pulau-pulau terpencil Maluku dengan membawa tenaga medis, -obatan, dan berbagai program bantuan sosial secara gratis.
Mengapa KAST menggunakan kapal berbasis yacht yang dinilai mahal?
Pilihan bentuk kapal disesuaikan dengan kondisi geografis Maluku yang terdiri dari banyak pulau terpisah laut. Biaya pembangunan sekitar Rp 2 miliar berasal dari sumbangan masyarakat, dan investasi tersebut dimaksudkan sebagai sarana jangka panjang yang dapat digunakan berulang kali dalam berbagai misi kemanusiaan, bukan sebagai simbol kemewahan.
Apakah layanan KAST hanya untuk warga Muhammadiyah?
Tidak. Program kemanusiaan KAST terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok. Hal ini tercermin dari distribusi bantuan panel surya yang diberikan kepada masjid maupun gereja di berbagai wilayah yang dikunjungi.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.